Diperintah Start Di Pitlane Menolak, Potensi Bahaya Sangat besar!

ktm indonesia

Insiden #TermasClash di Argentina pekan lalu masih belum bosan untuk diulas. Kali ini RA ingin beropini tentang salah satu dari 3 insiden besar di Argentina itu yang terjadi pada seorang Marc Marquez. Dua insiden lanjutan saat irresponsible riding dengan Aleix Espargaro dan Valentino Rossi kita kesampingkan dulu, RA lebih ingin membahas soal motor Marquez yang alami mesin mati saat akan start. Mengapa Race Direction tidak menghukum Marquez lwbih awal?

Saat start akan dilakukan di MotoGP Argentina lalu kita smeua tahu tiba-tiba Marquez turun dari motor dan mendorong RC213V-nya ke depan, nampaknya Ia berusaha menghidupkan kembali motornya. Kemudian tak lama ada marshall yang menghampiri dan sepertinya menyarankan Marquez untuk ke pinggir dan ke pitlane, saran yang memang seharusnya diterima pembalap manapun ketika motornya mogok.

Namun, Marquez nampaknya ‘geblek’. Bukannya memenuhi permintaan itu, namun justru Ia yang telah mendapati mesinnya hidup lagi naik ke motornya dan menuju ke posisi startnya di baris kedua. Alhasil, Ia harus mengendarai motornya melawan arah balapan. Tak lama kemudian start dilakukan. Dan Marquez ikut start seperti biasa dan baru kemudian mendapat sanksi penalti pertama yakni ride-through penalty di lap keenam.

Pertanyaannya, koq bisa sebuah balapan kelas dunia yang dikenal sangat ketat menjalankan regulasi membiarkan pembalap tetap start seperti biasa ketika motornya sempat mogok? Kenapa race direction begitu lemah dengan membiarkan Marquez tidak masuk pitlane? Dalam regulasi juga jelas jika mesin motor mati, pembalap harus angkat tangan agar marshall merespon dan mendorongnya ke pitlane. Tapi, ini tidak!

Ok, dalihnya adalah Marquez sudah mendapat hukuman ride-through penalty di lap ke-5 dan ketika keluar di lap keenam, posisinya melorot ke peringkat 19-20 (lupa). Tapi, apakah itu cukup? Untuk seorang Marquez okelah, itu cukup sesuai dengan kesalahannya, tapi potensi merugikan pembalap lain akan muncul jika hukuman start dari pitlane tidak dilakukan, alih-alih start biasa dan membalap normal. Belum lagi soal mental dan suasana psikologi pembalap lain yang berduel dengan Marquez. Dalam 5 lap apapun bisa terjadi. Apalagi ini Marquez, yang sejak di Moto2 sudah terkenal sebagai pembalap ‘celeng’ sruduk sana-sruduk sini (yang protes silahkan cari referensinya di youtube, banyak koq).

Andaikan, kita berandai-andai karena ini tidak terjadi, anggap saja fiksi, saat melaju dari start hingga hukuman dilakukan di lap 5, Marquez kemudian membuat kesalahan, misalnya potong racing line pembalap lain, senggol pembalap lain, bikin jatuh pembalap lain, atau dia sendiri jatuh (kalau ini terjadi anggap saja karma karena tidak menjalani hukuman walau juga kesalahan race direction sangat besar) maka bukankah kerugian juga akan dialami pembalap lain yang tidak melakukan kesalahan? Kasihan bukan?

Walau Marquez melakukan pembelaan dengan mengatakan bahwa Marshall telah memberikan tanda jempol ketika motornya hidup lagi, yang diintepretasikan oleh Marquez sebagai boleh start dari posisi awal, namun Marquez juga harus paham jika tugas marshall hanyalah membantu mengamankan pebalap atau trek jika terjadi kecelakaan sehingga dia tidak memiliki hak untuk memberikan keputusan terkait teknis penyelenggaraan balapan seperti dikutip dari tibunnews.com (10/4/2018).

“Saat itu, dia tidak tahu apa yang terjadi, dan ketika saya melihat orang lain, marshal itu meninggalkan motor saya dan yang lain melakukan hal ini (mengacungkan ibu jari tangan ke atas),” kata Marc Marquez.

Jadi, aturan dibuat bukan untuk dikompromikan. Sekelas MotoGP bisa melakukan kesalahan begini jelas memalukan. Jadi tidak salah jika pengamat MotoGP sekelas Carlo Pernat memberi nilai nol untuk kinerja race direction untuk MotoGP Argentina. Sebagai perbandingan kejadian yang mirip di MotoGP Argentina adalah di ATC Thailand ketika motor NSF250R Mario Aji stall engine di race kedua, ia harus start dari pitlane. Mosok sekelas Marquez kalah tata kramanya dibanding Mario?

Mario Aji didorong menuju pit lane di Thailand
Advertisements

2 Comments

  1. Can’t be more agree….

    Terus poin pembalap yang hilang gara2 diseruduk, piye..?

    DORNA, REPSOL, = Spain conspiracy

  2. waktu awal liat kejadian ini langsung tepok jidat.
    kok yo enteng banget balik arah kembali ke starting grid.
    liat aja gesture tangan vinales.
    abis posisi melorot, udah kutebak paling bakal sradak sruduk.
    dan akhirnya kejadian
    😆

Comments are closed.