Mengejutkan, Legenda Suzuki Ini Sebut Andrea Iannone Tukang Njiplak Set Up Rekan Setim!

Legenda Suzuki, Kevin Schwantz menyebut Andrea Iannone sebagai pembalap pemalas. Di sisi lain, Ia memuji tandemnya, Alex Rins. Dua pembalap Suzuki Ecstar ini memang punya cerita berbeda di tahun kedua kerjasama keduanya di tim biru.

Setelah musim 2017 babak belur, Suzuki menunjukkan tanda kebangkitan di musim ini. Di tes pramusim beberapa kali memang GSX-RR mampu mengimbangi kecepatan Desmosedici GP18, RC213V dan YZR-M1. Podium pertama yang direngkuh Alex Rins di Argentina juga menjadi bukti, bahwa peningkatan performa Suzuki bukan hanya isapan jempol belaka.

Namun, Schwantz tetap keukeuh dengan pendiriannya bahwa Suzuki salah telah memilih Iannone sebagai partner Rins. Ia menilai Iannone terlalu malas untuk mengembangkan motor. Malas mencari set-up terbaik motor tunggangannya. Iannone lebih suka menjiplak set up partnernya.

“Saya masih mengatakan Iannone bukanlah pilihan yang tepat bagi Suzuki. Di Ducati, ia memiliki skenario sempurna, yang mana ia memiliki pembalap pengembang terbaik, Dovizioso, sebagai rekan setimnya,” papar Schwantz seperti rideralam.com kutip dari motorsport.com (15/4/2018).

Schwantz bahkan menyebut Iannone mengendarai motor seperti sampah tiap akhir pekan karena tidak mencoba apapun, tidak berusaha menjadi ‘doctor’ bagi motornya.

“Ia bisa mengendarai motor seperti sampah sepanjang akhir pekan, tidak mencoba apapun, tidak mencapai apapun, dan kemudian berkata ‘Beri saya apa yang Dovi miliki [set-up], saya bisa lebih kencang darinya’, tambah Schwantz.

Wah, berabe juga ya kalau begitu kondisinya. Sebab, seorang pembalap tidak hanya berperan sebagai eksekutor utama di lintasan, tapi juga harus menjadi perencana hebat di garasi. Bagaimana mungkin pembalap akan melaju kencang dan memenangi sebuah balapan jika Ia tidak paham dan tidak mengerti kelebihan dan kekurangan motor tunggangannya. Dan hanya berharap pada set up rekan setim? Pembalap model begini hasil akhirnya benar-benar bergantung pada seberapa hebat partnernya mengembangkan motornya. Tidak mandiri!

Jadi ingat mengapa seorang Valentino Rossi mendapat julukan the doctor. Karena Ia mampu mendiagnosa kekurangan dan kelebihan motor, ‘mengobati’ penyakitnya, kemudian mengembangkannya hingga mampu menjadikan motor itu motor juara. Yamaha benar-benar merasakan bagaimana kualitas ‘kedoctoran’ Rossi sejak tahun 2004 silam. Yamaha yang sebelum 2004 selalu menjadi tim medioker, punya motor yang bertarung di papan tengah, tiba-tiba menjadi motor juara berkat tangan dingin Rossi. Nah, sayangnya Iannone tidak punya karakter mirip Rossi. Tidak heran jika pindah kemanapun akan selalu tidak maksimal hasilnya.

Advertisements