Pecco Bagnaia, Instuisi Hebat Seorang Valentino Rossi!

Francesco Bagnaia menjadi sosok paling menonjol di Moto2 musim ini. Ketika pembalap seperti Alex Marquez diunggulkan di awal musim setelah dua pesaing dekatnya musim lalu naik kelas, tiba-tiba Pecco Bagnaia melesat di 4 seri awal kejuaran grand prix nomor dua di bawah MotoGP tersebut. Dua kemenangan plus sekali podium ketiga membuat anak didik Valentino Rossi ini memimpin klasemen sementara. Siapakah Pecco?

motoblog.it

Pecco dilahirkan di Turin, Italia 21 tahun silam, tepatnya 14 Januari 1997. Pecco memulai karir balapnya di kejuaraan MiniGP di Eropa tahun 2009 dan menempati posisi kedua dalam kejuaraan tersebut. Tahun 2012 Ia berhasil menduduki peringkat akhir ketiga di kejuaraan yang saat ini diikuti Gerry Salim, CEV Moto3.

Setahun kemudian, dunia balap grand prix sudah berhasil ditembusnya. Pecco bergabung dengan tim San Carlo Team Italia di kejuaraan Moto3. Inilah tahun debut Pecco di kejuaraan grand prix dunia. Ia berpartner dengan pembalap Italia lainnya, Romano Fenati. Sayang, Ia tidak berhasil mendulang satu poinpun di sana. Tapi, hal itu tidak memudarkan pesonanya.

Valentino Rossi yang di tahun 2014 mendirikan tim Sky Racing Team VR46 mengajaknya bergabung, sekaligus proses transfer ilmu terjadi. Pecco resmi menjadi murid Rossi mengendarai motor KTM. Setelah gagal mencetak poin di musim rookie-nya, Bagnaia melakukan improvisasi yang jelas setelah pra-musim yang kuat. Dia menyelesaikan 10 besar lima kali selama 7 balapan pertama dengan finish di tempat keempat di Prancis 2014 Grand Prix sebagai hasil terbaiknya. Dia menyelesaikan musim di posisi 16 dengan 50 poin untuk kejuaraan. Namun, kebersamaan mereka hanya terjalin semusim.

Pada tahun 2015, Pecco bergabung dengan Tim Aspar Racing Mahindra dan rekan setimnya Juanfran Guevara dan juara bertahan Red Bull MotoGP Rookies Jorge Martín. Motor yang digunakan adalah motor India, Mahindra. Motor yang tidak punya sejarah sebagai pemenang di grand prix. Musim perdananya di Mahindra dihiasi dengan podium di Grand Prix Prancis. Akhir musim, posisi 14 menjadi miliknya dengan 76 poin.

sky.it

Potensi Pecco bersama motor Mahindra di musim perdananya akhirnya terbukti di tahun kedua. Mahindra dibawanya meraih kemenangan pertama sepanjang sejarah saat menaklukkan Sirkuit TT Assen. Tanda-tanda kemenangan Pecco sebelumnya sudah terlihat saat seri perdana Qatar meraih podium ketiga kemudian diulanginya di Jerez dan balapan kandang, Mugello. Pole juga berhasil diraihnya di GP Inggris saat kondisi hujan. Kemenangan kedua dicatatkan Pecco dan Mahindra di Sepang. Di akhir musim, Pecco meraih 2 kemenangan dan 6 podium untuk mengamankan posisi keempat dengan 145 poin.

Hasil spektakuler bersama Mahindra membuat Rossi menariknya lagi ke Sky Racing Team VR46 tahun 2017 sekaligus membawanya naik kelas ke Moto2. Petualangan baru dimulai. Potensi Pecco makin mengkilap. Tahun perdananya di Moto2 menghasilkan gelar Rookie of the Year 2017. Pecco menyelesaikan musim dengan 174 poin untuk menempati posisi ke-5 di Kejuaraan Moto2, meraih poin dalam 16 dari 18 balapan.

Dan, di musim 2018 ini Pecco sudah mencatatkan dua kali kemenangan dari 4 seri awal, Qatar dan Amerika serta podium ketiga di Jerez.

latimages.com

Kepada motorsport.com (11/5/2018), Rossi menceritakan alasan merekrut Pecco ke timnya. “Cerita tentang Pecco menarik karena kami menggaet dia setelah musim pertama di kejuaraan dunia, yang mana dia tidak mencetak hasil apa pun,” beber The Doctor.

“Sebelum musim itu, dia sangat kuat di Spanyol. Dia sudah balapan dengan melawan Alex Marquez, (Alex) Rins dan (Miguel) Oliveira. Dia sangat cepat. Dia juga banyak tumbuh dalam beberapa tahun terakhir. Menurut saya, dia mulai percaya pada dirinya sendiri saat bersama Mahindra musim 2016, ketika dia menang dengan motor yang lebih lambat”, tambah Rossi.

Pasca seri Jerez, Pecco masih memimpin klasemen Moto2 dengan 73 poin, unggul 9 angka dari rekan senegaranya Lorenzo Baldassarri sang pemenang Jerez.

Dan, musim depan Pecco telah dipastikan naik kelas ke MotoGP dan akan bertarung dengan sang guru di lintasan yang sama pasalnya tim satelit Ducati, Pramac, telah merekrutnya ketika musim 2018 ini belum berjalan. Kita tunggu saja seberapa cepat Bagnaia beradaptasi dengan motor prototype MotoGP yang dikenal ‘kejam’ bagi para rookie.

Instagram/Pecco42
Advertisements

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*