Yamaha Seharusnya Rekrut Zarco, Tapi Sungkan Dengan Rossi [Opini]

Johann Zarco baru saja memutuskan menerima pinangan KTM untuk MotoGP 2019 dan 2020. Apakah ini sebuah kehilangan besar bagi Yamaha? Rideralam.com mencoba menjawabnya sebagai orang luar yang awam pengetahuan daleman tim MotoGP, hanya sebagai penonton dan penikmat MotoGP. Semoga tidak ada fans boy di luar sana yang membabi buta menyerang opini pribadi ini.

Jawaban RA untuk pertanyaan di atas adalah iya, Yamaha baru saja kehilangan talenta besar yang sebenarnya berharap bisa direkrut. Penyebabnya adalah seorang Valentino Rossi. Keengganan sang legenda untuk pensiun demi menggenapi titel juara dunianya ke-10 membuat Yamaha harus kehilangan Zarco.

Keputusan Rossi memperpanjang kontrak dengan Yamaha hingga 2020 setelah sebelumnya sudah memastikan masa bakti Maverick Vinales untuk periode yang sama akhirnya membuat Yamaha bak memakan buah simalakama. Opini RA begini, Yamaha sebenarnya dalam posisi dilema. Ketika Rossi memutuskan lanjut membalap, Yamaha yang merasa berjasa terhadap the doctor, akhirnya sulit bagi pabrikan Iwata untuk menolak Rossi. Padahal, di luar sana ada opsi lain yakni merekrut Zarco yang di beberapa kesempatan telah menunjukkan kapasitasnya ketika mengungguli Rossi dan Vinales.

Benar, Rossi adalah penyumbang 4 gelar juara MotoGP bagi Yamaha. Tapi, gelar terakhir yang diraihnya adalah tahun 2009 atau 9 tahun silam! Bahkan, tahun 2011 Ia memutuskan meninggalkan tim biru dan berlabuh ke Ducati demi nasionalisme. Sejak bergabung kembali ke Yamaha tahun 2013, hasil maksimalnya adalah runner up. 2014 kalah dari Marquez, 2015 Lorenzo yang mendahuluinya dan 2016 lagi-lagi Marquez yang menggagalkannya.

Fenomena Zarco!

Zarco menjadi rookie fenomenal setelah kehadiran Rookie bernama Marc Marquez yang langsung merebut gelar juara di musim perdananya tahun 2013. Membuka musim debut di kelas para raja dengan memimpin balapan Qatar, Zarco memperkenalkan diri ke publik dengan gaya. Walau hanya bertahan 7 lap sebelum terjatuh, tapi Zarco telah memberikan kode bahwa kehadirannya di MotoGP akan menjadi kuda hitam.

Benar saja, sepanjang musim 2017 Zarco sukses 5 kali finish di depan Rossi-Vinales dalam kondisi sama-sama menyelesaikan lomba. Padahal, motor Zarco lebih tua setahun dibanding yang digunakan dua pembalap tim pabrikan tersebut. Makin menjadi di 4 seri awal musim ini. Ketika Zarco sudah dua kali podium kedua, Rossi-Vinales bahkan harus susah payah untuk sekedar masuk top 3.

Keputusan Yamaha mempertahankan Vinales masuk akal. Masih muda, punya kecepatan dan kans masih banyak untuk mengejar titel juara. Namun, mempertahankan Rossi adalah sebuah perjudian. Perjudian yang akhirnya ‘memaksa’ Yamaha kehilangan pembalap sekelas Zarco. Yamaha sungkan dengan Rossi, jasanya terlau besar untuk diabaikan.

Benar kata Marquez, Yamaha kehilangan pembalap bagus seperti Zarco. “Sebagai pengamat yang netral, Yamaha telah kehilangan pengendara yang sangat bagus – maksudku, dia akan pergi ke KTM!” Marquez menjawab. “Saat ini dia yang tercepat”.

Musim ini Yamaha tengah menuju musim yang kelam jika mengacu pada keluhan-keluhan Vinales ataupun Rossi terkait performa motor atau hasil 4 seri awal.. Hingga kini Yamaha masih belum juga menemukan solusi atas masalah elektronik di M1 Rossi dan Vinales. Tapi, ketika kedua pembalap utama bermasalah, Zarco justru sudah bertarung di baris depan dengan Marquez dan Dovizioso.

Tak ada yang meragukan skill dan kemampuan Rossi atau Vinales, tapi dengan masalah yang terus mendera dan keduanya belum juga adaptaif dengan kondisi tersebut, bukan tidak mungkin kemenangan atau sekedar podium menjadi sesuatu yang sulit mereka temui. Padahal, di sisi lain Zarco terus berpesta hahahaha

crash.net
Advertisements