Bisa Menang Setelah Tangki Dimodif, Mesin Diperhalus, Lorenzo: “Coba Dari Dulu, Ducati!”

Jorge Lorenzo akhirnya bisa memberikan kemenangan pertamanya bagi Ducati di rumah tim merah sendiri, Italia, Minggu (3/6/2018). Usai balapan tersebut Lorenzo sedikit menyayangkan keinginannya yang telat dipenuhi Ducati yakni soal modifikasi tangki Desmosedici GP18. Ia berandai-andai jika keinginannya tersebut dipenuhi lebih awal, bukan tidak mungkin finish podium akan lebih sering dialaminya.

Lorenzo yang start dari posisi kedua di belakang pole Valentino Rossi langsung menggebrak selepas lampu start padam. Ia memimpin balapan sejak tikungan pertama dan terus melaju hingga akhirnya finish lebih dari 6 detik di depan rekan setimnya, Andrea Dovizioso. Kemenangan pertama dalam 24 balapan bersama Ducati sejak terakhir menang di Valencia 2016 silam kala masih membela Yamaha.

Namun, Lorenzo sedikit menyesali keputusan timnya yang baru memenuhi keinginannya di Mugello soal modifikasi tangki GP18. Lorenzo yakin bisa memberikan kemenangan untuk tim merah lebih dini jika itu dilakukan sejak awal.

“Jika saya mendapatkan bagian yang saya butuhkan ini lebih awal, saya bisa meraih podium jauh lebih awal. Saya bisa menang sebelum balapan ini,” ungkap Lorenzo dilansir dari motorsport.com (3/6/2018).

Bisa jadi Ducati sedikit lamban mengakomodir keinginan Lorenzo itu karena selama ini x-fuera terlalu sering beralasan macam-macam ketika hasil yang diraihnya tidak maksimal. Padahal menurut Lorenzo, Ia selama ini tidak memberikan alasan macam-macam jika memang tidak mengalaminya.

“Saya yakin saya salah satu orang yang paling jujur di paddock. Tapi terkadang orang-orang tidak mempercayai saya,” tambahnya. “Mereka menganggap saya terlalu banyak beralasan, tapi saya tidak memberi alasan”.

Kemudian Lorenzo memberikan penjelasan kenapa modifikasi tangki mampu memberikannya hasil maksimal.

“Saya membutuhkan dukungan dengan tangki bahan bakar untuk menghemat energi lebih, saya meminta mesin untuk lebih halus. Dan saat Ducati memberi saya solusi tersebut, saya meningkat pesat”.

Mungkin logika Lorenzo begini, (mungkin lho ya) balapan selama lebih dari 20 lap seperti wajib memberikan kenyamanan kepada sang pembalap. Motor kencang, sasis terbaik hingga mesin yang smooth memang dibutuhkan untuk menang, namun kalau selama balapan si pembalap tidak nyaman posisi duduknya, termasuk saat menjepit tangki bahan bakar misalnya, maka semua kelebihan itu akan sia-sia.

Makanya, tidak heran ketika di Le Mans Lorenzo yang mendominasi sejak awal dan terlihat sangat kuat untuk sekedar didekati pembalap di belakangnya hanya sampai pertengahan lomba saja. Usai paruh balapan, posisinya perlahan tapi pasti terus merosot hingga akhirnya hanya finish ke-6. Bukan tidak mungkin jika saat itu Ducati sudah memenuhi keinginan pembalapnya itu, Lorenzo bisa menang.

Advertisements

1 Comment

Comments are closed.