Cerita Pasca Sachsenring 2018: Strategi Unik Nan Gagal Dovi, Galaunya Bautista Walau Finish Terbaik, Hingga Rossi Yang Ditinggal Kabur Teknisinya!

ktm indonesia

Balapan Sachsenring akhir pekan lalu menjadi penutup paruh pertama MotoGP musim 2018. Marc Marquez makin tak terkejar di puncak setelah meraih kemenangan kelimanya dalam 9 seri pertama musim ini di sirkuit sepanjang 3,7 km itu. Namun, ada cerita lain pasca race tersebut yakni tentang strategi unik dari Andrea Dovizioso yang hanya finish ketujuh, Alvaro Bautista yang meraih hasil terbaiknya musim ini namun akhirnya tetap galau serta cerita Valentino Rossi yang dihindari teknisinya.

Hemat Ban, Malah Kedodoran

Ya, itu yang dialami pembalap Italia, Andrea Dovizioso ketika memacu Desmosedici GP18 di Sachsenring. Dovi mencoba strategi unik menghemat ban belakang dengan tidak memaksimalkan tenaga GP18 di dua tikungan kencang Sachsenring, sebab Ia meyakini faktor ban belakang akan krusial di Sachsenring.

Benar saja, ban belakang memang krusial, namun bagi strategi Dovi sendiri. Gegara menghemat ban belakang, Dovi harus mem-push GP18 di titik-titik lain (selain dua tikungan cepat itu) sehingga lama kelamaan Ia kehabisan tenaga.

“Saya terlalu lambat pada dua tikungan, karena kami memilih untuk tidak menggunakan tenaga motor demi menghemat ban,” terang Dovizioso. “Saya mengira itu berbuah positif bagi kami, tapi kenyataanya saya harus menggunakan lebih banyak tenaga untuk lebih cepat di titik lainnya agar memiliki kecepatan serupa seperti grup terdepan. Namun, pada akhirnya saya kehabisan tenaga, dan tak dapat mengendarai motor secara sempurna,” sesal Dovi seperti dikutip dari motorsport.com (18/7/2018).

Hasil balapan memang menunjukkan strategi Dovi gagal. Ia tidak bisa lebih baik dari posisi 5 sepanjang 30 lap lomba dan akhirnya finish ketujuh. Ia menjadi pembalap tercepat keempat Ducati setelah Petrucci, Bautista dan Lorenzo. Alhasil, di klasemen Ia makin tertinggal dari Marquez.

Finish Terbaik Tapi Galau!

Lain Dovi lain pula Alvaro Bautista. Pembalap Angel Nieto Team itu meraih hasil terbaik musim ini di Sachsenring usai finish kelima. Hasil yang pernah diraihnya juga musim lalu di Mugello. Finish kelima, Bautista mengungguli dua pembalap Ducati, Dovizioso dan Lorenzo. Seharusnya, hasil tersebut membuat pembalap 33 tahun itu gembira, tapi Bautista justru galau.

Penyebabnya adalah tim Angel Nieto akan digantikan proyek SIC Petronas yang akan menjadi tim satelit Yamaha. Bautista awalnya tidak masuk dalam rekrutan tim Petronas Yamaha itu, namun seiring pengumuman pensiun Dani Pedrosa yang digadang-gadang akan berduet dengan Franco Morbidelli, nama Bautista sebenarnya sempat dipertimbangkan.

Tapi, ada satu nama yang menjadi pesaingnya muncul di permukaan yakni pembalap Moto2, Fabio Quartararo yang belum genap 20 tahun usianya. Dan, walau belum ada konfirmasi resmi, SIC manajemen nampaknya lebih memilih pembalap Prancis itu yang akan menggeber Yamaha M1 musim depan.

Bautista masih punya peluang dengan rencana Avintia menggusur rookie Xavier Simeon, tapi nampaknya tim satelit Ducati itu lebih memilih nama Karel Abraham sebagai penggantinya. Kekuatan finansial di belakang Abraham menjadi penentu.

Akibatnya, kini Bautista galau. Tempat di MotoGP makin kecil peluangnya, pindah ke World Superbike Ia sudah pesimis. “Saya tidak merasa itu akan berhasil,” ungkapnya.

Teknisi Rossi Kabur!

Mirip dengan Bautista, Rossi juga baru saja meraih hasil terbaiknya musim ini yakni runner up di Sachsenring. Ia sempat bertarung mengejar Marquez hingga berjarak 0,6 detik saja di belakangnya, namun akhirnya dalam 5-6 lap tersisa, bukannya makin menipiskan jarak atau bahkan menyalip, Rossi justru makin tertinggal. Dari tayangan, bisa terlihat jelas bahwa akselerasi M1 jauh tertinggal dari RC213V.

Nah, terkait masalah akselerasi inilah yang menyebabkan para teknisi menghindarinya di markas Yamaha. Setidaknya itu yang disampaikan the doctor sambil bergurau.

“Saya memberi banyak tekanan kepada mereka di markas Yamaha [Lesmo], dan saat ini mereka sudah tidak tahan lagi. Saat melihat saya, mereka kabur,” candanya. “Setiap hari, saya di sana mendesak mereka karena kami memerlukan sesuatu pada akselerasi”.

Masalah yang akhirnya memaksa Yamaha memecahkan rekor tanpa kemenangan mereka di tahun 2002-2003. Kini hingga Sachsenring kemarin, tim Iwata itu sudah 19 seri tanpa menang, mengalahkan 18 seri di musim 2002-2003 itu.

Walau kini masih menduduki posisi kedua di klasemen, namun jarak Rossi dengan Marquez sang pemuncak sangat jauh yakni 46 angka. Dengan tersisa 10 balapan lagi di akhir musim ini, Rossi pesimis bisa mengejar Marquez yang makin solid dengan RC213V. Pembalap berusia 39 tahun itu mengaku masih menyimpan harapan bisa mengejar Marquez dengan syarat masalah elektronik dan akselerasi bisa diatasi Yamaha sehingga Ia dan Vinales bisa kembali memetik kemenangan lagi.

Advertisements

1 Trackback / Pingback

  1. Wuih… Ternyata Dovizioso Menang Karena Mempermainkan Pembalap Lain | rideralam.com

Comments are closed.