Motor Sama-Sama Bermasalah, Di Austria Vinales Finish Jauh Di Belakang Rossi, Ini Penyebabnya!

ktm indonesia

Hasil berbeda ditunjukkan dua pembalap Yamaha di balapan Red Bull Ring akhir pekan kemarin. Maverick Vinales finish ke-12 ketika start dari posisi 11, sebaliknya Valentino Rossi finish ke-6 walau start dari posisi 14. Padahal, keduanya tengah menghadapi masalah yang sama yakni soal performa M1 yang tak kunjung membaik, lalu apa yang membuat hasil keduanya berbeda?

Mudah menyebut pengalaman sebagai penyebab perbedaan keduanya. Kita semua paham Rossi sudah lebih 20 tahun di dunia balap gand prix. Sejak tahun 2000, Rossi sudah bertarung di kelas primer ketika kala itu masih bernama kelas 500 cc. Sehingga, pengalaman Rossi mengatasi berbagai masalah motor jelas lebih banyak dari Vinales yang baru 2015 lalu merasakan kelas tertinggi.

Tapi, apakah hanya pengalaman yang membedakan keduanya? Jika mengacu pada pernyataan Rossi seperti dikutip dari motorsport.com (15/8/2018), selain pengalaman ada juga satu faktor lain yang cukup menentukan yakni karakter.

“Bagi saya, ini soal pengalaman karena saya telah melalui banyak periode buruk [selama karier saya] lebih dari Maverick, yang jauh lebih muda dari saya. Namun ini karakter juga berperan,” ujar Rossi.

Tidak dijelaskan lebih jauh karakter seperti apa yang dimaksud Rossi. Namun, Rossi tetap yakin Vinales akan kembali ke jalur kemenangan (tentu dirinya sendiri juga) jika Yamaha M1 sudah mengalami peningkatan, seperti yang dialaminya di awal karirnya bersama Yamaha tahun lalu dimana Ia langsung meraih kemenangan di dua seri pembuka.

“Ia hanya memerlukan motor lebih baik, dan setelahnya ia bisa lebih kompetitif sejak latihan berikutnya, itu pasti,” tambah Rossi.

The Doctor

Sedikit flashback ke awal karir Rossi. Rossi muda yang kala itu masih berusia 21 tahun menjadi rookie di kelas 500 cc dengan motor Honda NSR500, setahun kemudian tahun 2001, Rossi merebut gelar juara dunia pertamanya di kelas primer. Ketika terasa ‘serba mudah’ mengoleksi titel juara bersama Honda, Rossi mengambil keputusan drastis bergabung ke Yamaha. Tim yang kala itu masih di level medioker.

Akhir musim 2003 Ia memutuskan hijrah ke Yamaha. Tentu saja, banyak pihak bertanya-tanya apa motivasi Rossi pindah ke tim gurem, tim dengan motor lemot. Namun, keraguan semua orang dijawab Rossi dengan kemenangan di Sirkuit Welkom, Afrika Selatan di seri pembuka MotoGP 2004. Kemenangan pertama yang menginisiasi kemenangan-kemenangan berikutnya hingga berjumlah 9 kali dari total 16 seri di musim itu dengan berujung pada titel juara (motogp.com, 16/8/2018).

Sejak mengangkat Yamaha dari tim gurem menjadi tim juara dunia, Rossi akhirnya mendapat julukan the doctor, karena keahliannya ‘mengobati’ motor sakit menjadi motor juara.

 

Advertisements