Pembalap Sensasional Itu Kini Sedang Hilang Kepercayaan Dirinya!

Seperti kata banyak orang, kehidupan itu ibarat roda yang berputar; kadang di atas, kemudian di samping dan tak jarang pula sedang di bawah. Sering pula, ketika sedang di atas kepercayaan diri sedang meninggi, dan berubah tak pede saat di bawah. Emang ada apa sih koq tiba-tiba bicara roda? Hehehe… ini lho cak, ada salah satu pembalap MotoGP yang punya catatan satu kemenangan sepanjang karirnya sedang hilang kepercayaan dirinya. Dia adalah Jack Miller. Ada apa dengan Miller, pembalap sensasional tahun 2014 silam?

dari moto3 lompat ke motogp

Kalau mengikuti karir pembalap Australia ini, sampeyan pasti ingat kalau Miller inilah pembalap yang “mengikuti kelas akselerasi” jika di sekolah-sekolah maju. Ya, tanpa mengecap karir di kelas intermediet Moto2, Miller yang kala itu masih berusia 19 tahun, dan digadang-gadang akan menjadi bintang di MotoGP, diangkat langsung ke kelas para raja, MotoGP di tahun 2015. Padahal di Moto3 prestasi tertingginya ‘hanya’ runner up di musim 2014. Namun, Honda Racing Corporation (HC) melihat sesuatu yang spesial dari Miller, maka diikatlah Miller muda (sekarang masih muda juga sih sebenarnya) dengan kontrak 3 tahun.

Naik kelas (lebih tepat lompat kali ya) ke MotoGP, HRC menyekolahkan Miller di tim satelit mereka, LCR Honda setahun dan kemudian ke Marc VDS dua tahun berikutnya. Hasilnya, selain kemenangan satu-satunya di balapan kacau nan basah Assen 2016, tak ada yang spesial dari capaian Miller (tidak spesial tapi bukan berarti buruk ya). 17 poin di musim musim debut (peringkat 19), 57 angka di tahun kedua (P18) dan 82 poin di tahun terakhirnya bersama Honda (P11).

naik kelas lewat jalur akselerasi

HRC kemudian tidak memperpanjang kontraknya, Miller pun gagal menembus tim pabrikan Repsol Honda, seperti yang diharapkan HRC kala melihat potensi sang rookie kala itu. Akhirnya, Miller hengkang ke Ducati. Bukan ke factory team, namun (lagi-lagi) ke tim satelit, Pramac Racing berduet dengan Danilo Petrucci di musim ini. Petualangan baru dimulai. Miller makin dewasa, pengalaman 3 tahun di Honda dan tentu saja di kelas primer membuatnya makin matang.

Hasilnya, lumayan walau (sekali lagi) tidak spesial. Lima seri awal dibabat dengan selalu finish top 10 dengan raihan tertinggi finish keempat di Argentina dan Prancis. Tapi, Le Mans adalah terakhir kali Miller percaya diri dengan hasil race-nya, pasalnya setelah itu roda berputar ke bawah.

Finish keempat di Le Mans, Miller datang ke Mugello dengan kepercayaan diri tinggi. Namun, sayang di sinilah titik balik hilangnya kepercayaan diri Miller. Ia tersingkir lebih awal di Mugello akibat crash di tikungan 4 lap kedua. Padahal, Ia yakin bisa meneruskan tren finish keempat di Le Mans untuk naik podium di Mugello. Ketika masih berharap bisa bangkit, Catalunya menjadi palu godam berikutnya. Ia kembali gagal finish, namun kali ini masalah datang dari motor yang mengalami kegagalan teknis. Damn!

“Saya tidak bisa memberi tahu apa masalahnya. Feeling dengan motor, kondisinya bagus hingga Mugello, dan setelah kecelakaan di sana, masalah teknis [di Catalunya] telah menurunkan kepercayaan diri saya,” ungkap Miller seperti dikutip dari motorsport.com (19/8/2018).

crash di mugello bikin hancur miller

Selepas mimpi buruk di Mugello dan Catalunya, Miller mencoba bangkit di Assen. Sirkuit yang telah ‘memberinya’ puncak dunia dua tahun silam. Ia memang akhirnya kembali finish top 10 (posisi 10), tapi ternyata Ia kembali jeblok di tiga seri berikutnya. Sachsenring, Brno dan Red Bull Ring diselesaikannya di luar top 10, finish ke-14 di Jerman, sedikit lebih baik di Rep. Ceko (P12) dan finish ke-18 setelah sempat melebar ke gravel di Austria alias tanpa poin.

“Ini sangat sulit menghadapinya, ini membuat saya stres karena Anda memiliki banyak orang menanyakan pertanyaan ini,” tambah Miller.

tanpa poin di red bull ring

Tapi, seperti di awal tulisan ini, roda pasti berputar. Saat ini di bawah, tapi Miller masih optimis bisa keluar dari masalah yang menderanya. Ia masih yakin akan kembali ke atas, dan inilah modal penting dari seorang dengan kualitas juara, keyakinan!

“Namun, keyakinan diri itu masih ada, dan dengan orang sama seperti awal musim, bekerja sama kerasnya jika tidak lebih keras. Ini hanyalah titik rendah, orang-orang mengalami masa ini pada hidupnya, dan pada balapan ini lebih serius dibanding pekerjaan lainnya,” tutupnya.

Advertisements

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.