4 Upaya Serius Yamaha Kejar Ducati dan Honda, Ada Peran Malaysia!

4 Upaya Serius Yamaha Kejar Ducati dan Honda! Posisi Yamaha di MotoGP sejatinya masih sebagai tim papan atas yang selalu bertarung untuk menang. Namun, sejak Jorge Lorenzo memenangi titel MotoGP 2015, Yamaha tidak lagi mampu menjadi juara. Honda dengan Marc Marquez-nya terus mendominasi. Parahnya, Yamaha tidak saja sudah ditinggalkan Honda, namun juga mulai dikejar Ducati. Apa upaya Yamaha mengejar ketertinggalan dari dua rivalnya itu?

Yamaha sedang menuju titik nadir performanya di MotoGP. Sejak kemenangan Valentino Rossi di Le Mans 2017, tidak ada rider Yamaha satupun yang mampu menghadirkan kemenangan selepas itu. Bahkan, pabrikan Iwata itu sudah 21 kali tanpa kemenangan. Andaikan Silverstone kemarin jadi balapan, bukan tidak mungkin mereka akan menyamai rekor terburuknya 22 kali tanpa menang di periode 1997-1998!

Masalah Yamaha bukan dari sektor pembalap. Siapa yang meragukan kualitas Rossi dan Vinales. Keduanya adalah pembalap juara. Namun, Yamaha punya masalah besar di sektor kuda besi. YZR-M1 yang begitu digdaya sejak ‘dibangunkan’ Rossi tahun 2004 silam, seolah kembali menjadi motor medioker sejak Dorna punya aturan main baru di sisi elektronik.

Ya, sejak 2016 lalu Dorna membuat keputusan besar untuk menyeragamkan ECU motor-motor tim peserta yakni dari satu pemasok, Magneti Marelli. Inilah yang membedakan Yamaha dengan Ducati dan Honda selanjutnya.

Honda dengan kekuatan finansialnya mampu membayar ahli elektronik untuk ‘mengawinkan’ RC213V dengan elektronik baru. Ditambah faktor Marquez, akhirnya Honda makin ngacir. Terbukti, 2016 dan 2017 gelar juara mereka rebut melalui si baby alien.

Ducati tentu saja paling diuntungkan dengan regulasi itu. Magneti Marelli adalah pemasok ECU mereka sejak lama. So, adaptasi tidak lagi dibutuhkan, mungkin hanya ubahan kecil yang mereka lakukan dengan Desmosedici menyesuaikan dengan yang diinginkan Dorna tehadap perangkat ECU Magneti Marelli. Tidak masalah, sudah on the track.

Nah, Yamaha yang paling menderita dengan kebijakan ini. Ternyata, M1 dan ECU Magneti Marelli tidak bisa klop. Rossi dan Vinales sering mengeluhkan akselerasi motor mereka yang tidak lagi bisa ganas. Ditambah ciri khas Yamaha yang tidak mengejar tenaga motor, M1 akhirnya keteteran.

Sadar dengan kelemahan itu, Yamaha mulai berbenah. Berbagai usaha dilakukan untuk mengembalikan hegemoni Iwata. Intinya, mereka sedang berusaha mengejar Ducati dan Honda. Apa saja upayanya, simak yuk…

1. Memastikan Tetap Punya Tim Satelit

Hengkangnya Tech 3 yang sudah 20 tahun bekerjasama, membuat Yamaha sedikit kelimpungan. Bukan tanpa sebab, kehadiran tim satelit sangat membantu pengembangan motor. Menurunkan empat M1 tentu lebih baik dari hnya dua M1 di lintasan.

Regulasi Dorna yang menutup masuknya tim baru ke MotoGP hingga tahun 2021 membuat Yamaha harus berpikir keras mencari pengganti Tech 3. Sebenarnya untuk pabrikan sekelas Yamaha tidak akan sulit mencari, sudah ada beberapa tim yang antri. Tapi, Yamaha mencari tim yang secara manajemen bagus dan finansial kuat, faktor terakhir ini sangat penting.

Beruntung, keinginan Yamaha bertemu dengan ambisi Malaysia. Negeri jiran itu melalui Sepang International Circuit (SIC) Management punya ambisi menancapkan kukunya di MotoGP. Untuk ‘mengakali’ larangan Dorna, akhirnya mereka mengambil alih tim lain yang sudah eksis di MotoGP. Jadilah Angel Nieto Team yang jadi ‘korban’. SIC Petronas terbentuk untuk menjadi tim satelit baru Yamaha. Malaysia senang, Yamaha girang!

2. Menurunkan Tiga YZR-M1 Spek A di Lintasan

Sepanjang 20 tahun ‘ngopeni’ Tech 3, Yamaha tidak pernah sekalipun memberikan YZR-M1 yang sama dengan yang digunakan dua pembalap tim pabrikan. Biasanya, Tech 3 mendapat jatah ‘motor sisa’ yang berusia setahun lebih tua. Namun, kebijakan itu dipastikan berubah mulai musim depan.

Dengan kekuatan finansial SIC Petronas, Yamaha akhirnya mau memasok YZR-M1 spek A untuk mereka, walau hanya satu motor. Yamaha menyebut ambisi SIC untuk langsung bertarung di baris depan kejuaraan membuat pihaknya mau ‘memberikan’ M1 Spek A untuk Franco Morbidelli, satu dari dua pembalap mereka di MotoGP 2019.

Sekali lagi, Malaysia senang karena bisa mendapatkan motor lebih kompetitif, Yamaha girang karena input data teknis makin banyak dan presisi untuk membuat M1 berkembang pesat mengejar Desmosedici dan RC213V.

3. Membentuk Tim Tes Eropa

Yamaha sejatinya punya 5 pembalap penguji, namun kesemuanya orang Jepang dan seluruh tesnya berbasis di Jepang. Tentu, jarak yang sangat jauh dari Jepang ke markas tim di Italia menjadi kendala akselerasi pengembangan motor. Akhirnya, menyadari hal itu mulai musim depan Yamaha membentuk tim tes Eropa.

Tim tes Eropa ini akan berkekuatan pembalap dari Eropa dan melakoni uji coba di trek-trek Eropa. Eks pembalap mereka di Yamaha Tech 3, Jonas Folger direkrut untuk menjadi bagian dari tim. Kondisi ini sudah lebih dulu dilakukan Honda dan Ducati. Alhasil, kedua tim itu mampu berakselerasi di paruh musim kedua berkat masukan-masukan baru dari para test rider.

4. Membentuk Tim Divisi Khusus R&D Elektronik

Yamaha M1 punya masalah dengan mesin yang sulit mengimbangi akselerasi rival. Regulasi yang melarang tim pabrikan mengutak-atik mesin sepanjang musim berjalan memaksa Yamaha harus mengakalinya dengan pendekatan elektronik. Tidak mudah, sebab ECU Magneti Marelli yang digunakan seluruh tim MotoGP adalah buatan Italia. Butuh seseorang yang expert menanganinya. Ducati sudah pengalaman, Honda punya ahli dari Italia.

Yamaha akhirnya membentuk divisi khusus elektronik. Tim baru ini mereka sebut EMS (Electronics Management System). Tim ini akan menangani khusus elektronik M1 dengan kekuatan tiga insinyur asal Spanyol dan seorang dari Belgia di bawah pimpinan Michele Gadda, ahli elektronik dari Italia yang membantu Yamaha Superbike meraih kemenangan tahun ini.

Kita lihat seperti apa hasil dari usaha serius Yamaha di atas tahun depan. Yang jelas, para rival tentu saja tidak akan tinggal diam. Ducati dan Honda masih akan menjadi rival berat Yamaha di masa mendatang, tanpa bermaksud mengecilkan tim lain seperti Suzuki, KTM ataupun Aprilia.

Advertisements

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.