Pedrosa Menyesal Tidak Tiru Marquez di Aragon

Marc Marquez mengakui kesuksesannya mengalahkan Andrea Dovizioso di Aragon berkat keputusannya gambling memilih ban belakang soft. Ia unggul 0,6 detik dari pembalap Ducati itu yang sempat memimpin balapan cukup lama. Keputusan ini pula yang membedakannya dengan sang partner, Dani Pedrosa, yang akhirnya harus puas finish kelima.

Usai balapan yang berlangsung selama 23 putaran itu, Pedrosa menyesali keputusannya memilih ban belakang hard sehingga Ia kesulitan merengsek ke depan menyaingi Marquez-Dovi. Ia berjarak sekitar 5 detik di belakang rekan setimnya itu di hasil akhir lomba.

Pedrosa sebenarnya menjalani balapan dengan sangat baik. Ia, yang sepanjang musim ini belum pernah naik podium, start dari posisi 6 dan bisa terus berada di barisan depan. Tapi, kemudian Ia mengaku tidak bisa memaksa diri menerobos ke depan sebab ban belakang disebutnya kekurangan grip.

“Saya pikir hari ini di balapan semuanya cukup baik, kami bisa start dengan grup depan dan saya bisa beberapa kali menyalip. Sayangnya, ban belakang hard tidak memiliki grip,” ungkap Pedrosa dikutip dari motorsport.com (26/9/2018).

Pembalap yang memutuskan pensiun akhir musim itu kemudian menyesali keputusannya mengabaikan kemungkinan menggunakan ban soft, seperti yang dipilih Marquez. Ia mengaku optimis bisa bertarung di zona juara jika memilih tipe ban itu.

“Sepertinya soft mungkin pilihan yang bagus. Tentu, pada akhirnya dengan soft Anda telah mengelola sedikit ban, tetapi dengan kondisi trek setelah Moto2, saya pikir [itu] lebih baik daripada hard,” tambah Pedrosa.

Seperti yang pernah diungkapkan Dovizioso sebelum balapan, manajemen ban di Aragon akan lebih menentukan dibanding hanya sekedar kecepatan. Dan itu terbukti dengan kemenangan Marquez dan juga penyesalan Pedrosa. Pada akhirnya keputusan akhir pembalap yang bisa membedakan hasil akhir. Keputusan Marquez memilih ban soft ternyata diambil di last minute sebelum race. Hal itu diungkap oleh Alberto Puig, Manajer Repsol Honda.

“Marc tahu dia bisa menang dan dia bertaruh untuk mengganti ban belakang di saat-saat terakhir. Dia mengambil keputusan sendiri. Itu risiko, tetapi dia menganggap dia bisa bersepeda dengan baik dengan spek soft. Hasilnya, Ia bertarung dengan mantab di depan, sedangkan Dani bermasalah dengan ban belakangnya, yang berarti keputusan Marquez benar”.

Yes, selain skill membalap, instuisi dan keberanian mengambil resiko menjadi nilai plus seorang pembalap. Ia lebih mengikuti instingnya dalam mengambil keputusan, tentu saja dengan resiko sebanding antara kegagalan dan keberhasilan. Marquez sudah membuktikan keunggulannya untuk satu ini.

Advertisements

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.