Kekuatiran Ayah Lorenzo Terhadap Performa Pembalap Muda Italia

Satu lagi yang bikin RA kagum dengan totalitas mas taufik niswan a.k.a tmcblog dalam menulis berita adalah informasinya yang tak terduga, update dan kadang kita jadi berpikir “koq bisa ya dia ‘nemu’ berita beginian” seperti yang dilakukannya lagi saat menulis tentang MotoGP. Lebih khusus tentang sorotan seorang Ayah (babeh) Lorenzo yang menilai kaderisasi pembalap Spanyol yang bisa kalah dari Italia. Bisa ya sampai ke sana blusukan nyari beritanya?! Harus dikejar nih hehehe…

Mungkin babeh Lorenzo mulai membaca performa pembalap-pembalap muda Italia yang mulai bermunculan di balap grand prix. Bahkan, di Moto2 musim ini seorang Francesco Bagnaia baru saja mencetak rekor kemenangan ke-800 pembalap Italia di balap grand prix sejak pertama tahun 1949 oleh Bruno Ruffo. Tidak hanya Bagnaia, di Moto2 masih ada nama-nama seperti Lorenzo Baldassari dan adik tiri Valentino Rossi, Luca Marini yang menunjukkan performa ciamik nan stabil di depan.

Bagnaia kini memimpin klasemen Moto2 dengan keunggulan 28 poin dari Miguel Oliveira yang notabene bukan pembalap Spanyol (Portugal). Lalu, siapa spaniard terdekat dengan Bagnaia? Dia adalah Alex Marquez, posisinya? Peringkat 5, poinnya? 126 poin atau tertinggal 133 poin!

Melesatnya pembalap muda Italia di Moto2 tidak lain berkat polesan dan aksi nyata seorang Valentino Rossi. Melalui program sekolah balapnya bernama VR46 Academy. Melalui VR46 Academy ini, Rossi menumpahkan rasa nasionalismenya dengan merekrut pembalap muda Italia, dibina, diberi ilmu balap dan dididik untuk menjadi pembalap profesional berskill. Proyek ini dirintis sejak 2014 tak lain karena kesedihan Rossi atas meninggalnya sang rekan, Marco Simoncelli di Sepang. Rossi menyebut Simoncelli pernah memintanya latihan bareng dirinya di tahun 2006-2007, inspirasi itulah yang membuatnya mendirikan VR46 Academy.

Proyek Rossi tidak hanya sebatas mendirikan sekolah balap, tapi juga memfasilitasi pembalap-pembalap itu ke kompetisi grand prix. Maka dibentuklah tim SKY Racing Team VR46. Mulai dari kelas Moto3 tahun 2014, 3 tahun kemudian tim tersebut mentas di Moto2 hingga kini. Ke depan, ketika Dorna resmi mencabut larangan tim baru di kelas MotoGP hingga 2021, maka bersiaplah tim yang identik dengan warna biru gelap itu bertarung di kelas para raja dengan formasi all Italiano.

Kondisi di atas yang mungkin tengah menjadi kerisauan babehnya Lorenzo. Ia kemudian mengkritik pembinaan pembalap yang dilakukan negaranya, Spanyol yang disebutnya mulai kurang update. Menurut Chicho melalui akun twitternya @chicholorenzzo, saat ini Spanyol masih terlena dengan kejayaan pembalap-pembalapnya. Memang betul, sejak kehadiran Jorge Lorenzo, kemudian Marc Marquez, MotoGP seperti menjadi milik keduanya. Pembalap Italia hanya bertarung di posisi runner up, sebut saja Rossi dan Andrea Dovizioso.

Di Spanyol, pembinaan pembalap muda dilakukan melalui kompetisi. Jadi, dornanya Spanyol membuat kompetisi mulai jenjang anak-anak dan bertingkat hingga remaja. Nah, menurut Chicho, pembinaan model ini terlalu mahal biayanya dan mulai kurang efektif. Ia menambahkan, seharusnya pembinaan dimulai dari keluarga dimana menempatkan sang Ayah sebagai mekanik.

Baru, tahap selanjutnya adalah dengan membangun training camp. Training camp ini mengajarkan teknologi dan memoles skill pembalap dimana mereka sudah mendapatkan dasarnya di keluarga.

Saat ini, memang baru Franco Morbidelli yang bertarung di kelas para raja. Namun, musim depan punggawa VR46 Academy dipastikan akan bertambah dengan kehadiran Peco Bagnaia yang akan memperkuat Pramac Ducati. Dan, tahun 2021 tidak hanya pembalap Italia yang mentas, namun sekaligus tim VR46 akan turut serta meramaikan kompetisi.

Performa meningkat pembalap-pembalap muda Italia juga tidak hanya di Moto2, di kelas paling bawah, Moto3, para Italiano juga menunjukkan performa yang menggiurkan. Memang, pimpinan klasemen adalah seorang Spanyol bernama Jorge Martin, namun 3 pembalap di belakangnya semuanya Italiano! Ada Marco Bezzecchi, Fabio Di Giannantonio dan Enea Bastianini. Itu di luar pembalap tim SKY Racing Team VR46 yakni Dennis Foggia dan Nicolo Bulega. Bahkan, di Thailand kemarin podium semuanya Italiano!

So, jika pembalap muda Italia siap menggebrak dalam 3-5 tahun ke depan, tinggal kita tunggu apa ‘respon’ Spanyol dengan kebangkitan Italiano itu. Seru, dua negara ini memang masih menjadi kutub produsen pembalap-pembalap grand prix.

Advertisements

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.