Torsi Triumph Bawa Moto2 Dekati MotoGP, Tapi Bahaya Mengintai Pembalap!

ktm indonesia

Penggantian mesin Honda 600cc menjadi Triumph 765cc menghadirkan dimensi baru kelas Moto2. Tidak hanya era mesin baru, namun juga membawa pengalaman berharga bagi para pembalap untuk lebih mendekati MotoGP.

Para pembalap Moto2 baru merasakan performa mesin baru Triumph 765cc dan ECU Magneti Marelli akhir November lalu di tes Jerez.

Torsi ekstra dari mesin triple silinder 765cc Triumph – dibandingkan dengan mesin Honda 600cc empat silinder sebelumnya – adalah topik pembicaraan yang hangat dan membawa gaya berkendara yang mendekati MotoGP.

Sam Lowes

Dua pembalap yang bisa ditempatkan untuk membuat perbandingan adalah Sam Lowes dan Thomas Luthi, satu-satunya pembalap di Moto2 2019 yang juga menghabiskan satu musim di kelas utama.

“Oke, cornering speed lebih lambat daripada mesin Honda, tetapi keluar dan masuk tikungan sudah lebih cepat,” kata Lowes pembalap yang kembali ke Gresini dan Kalex untuk 2019 dikutip dari crash.net (14/12/2018).

“Oke, ini bukan MotoGP – ini 130 hp – tapi lebih seperti MotoGP untuk menghentikannya lebih dari yang Anda lakukan pada mesin Honda Moto2,” tambah pembalap yang membela Aprilia di MotoGP 2017.

torsi triumph

Thomas Luthi

Sementara itu mantan pembalap Marc VDS Honda di MotoGP 2018, Thomas Luthi juga punya komentar senada dengan Lowes.

“Sekarang saya kembali dan saya juga berpikir, ‘Moto2 akan lebih dekat dengan MotoGP’ – tetapi Anda masih membutuhkan kecepatan lebih di tikungan,” ujar pembalap berpaspor Swiss itu.

“Meskipun demikian, ini adalah saat yang tepat untuk kembali ke kelas ini, kendati masih Moto2, tapi ini bukan mesin 600cc dan ada cukup banyak torsi dari Triumph di tikungan,” tambahnya.

torsi triumph

Bahaya Mengintai

Kendati menyebut mesin baru Triumph bisa membawa Moto2 mendekati MotoGP, namun bahaya mengintai para pembalap. Torsi besar yang dihasilkan mesin 765cc itu menjadi sulit dikontrol pembalap.

“Saya pikir itu sebabnya kami sering melihat insiden highside. Karena sangat sulit dikendalikan. Anda harus tenang dan sangat halus dengan grip gas. Ini sesuatu yang baru dan kami harus menemukan cara untuk mengaturnya dengan benar untuk mendapatkan kontrol lebih banyak,” ujar Luthi.

Advertisements

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.