Vinales Ceritakan Momen Kebangkitan Usai Terpuruk di Aragon

Maverick ViƱales mengungkapkan bagaimana ia seperti naik rollercoaster selama dua musim terakhir sehingga ia berencana untuk menyewa jasa psikiater olahraga untuk 2019. Vinales gabung Yamaha tahun 2017, dan baru meraih 4 kemenangan sejauh ini. Musim lalu adalah musim terburuknya. Namun, selepas Aragon Ia menyadari sesuatu.

Vinales gabung Yamaha musim 2017. Ia langsung memenangi 3 dari 5 balapan awal. Mei 2017 kemenangan ketiganya. Namun, setelah itu Ia baru bisa menang lagi di Oktober 2018 saat mengakhiri rekor buruk Yamaha yang tidak pernah menang dalam 25 seri.

Kebangkitan vinales
perubahan carcass ban Michelin tipe terkeras sangat mempengaruhi Vinales

Kepada sportmagazine.com (8/1/2019) usai memenangi seri Phillip Island lalu, Vinales menyebut perubahan carcass ban Michelin membuat gaya balapnya berubah sehinga dominasi di awal musim 2017 tidak bisa berlanjut.

Perubahan carcass ban tipe hard yang dilakukan Michelin membuat Vinales kesulitan saat melahap tikungan. Ia mengaku sering melebar saat keluar tikungan. Alhasil, Ia berusaha melakukan pengereman terlalu dini untuk menghindari Yamaha M1 nya keluar racing line. Akibatnya, Ia kehabisan waktu di sana.

Lepas Dari Bayang-Bayang Rossi

Masalah lainnya adalah Vinales menyebut motor yang digunakannya terlalu ‘Rossi Sentris’. Ia menyadari hal itu di seri Aragon lalu. Ketika itu, Vinales start dari posisi 14 dan finish ke-10. Ia kemudian memutuskan untuk menggunakan set-up motornya sendiri.

“Oke sekarang saya akan menggunakan gaya balap saya, sepenuhnya, dan jika saya tidak cepat maka saya tidak cepat, tetapi saya akan melakukan apa yang ingin saya lakukan,” ujarnya sesaat setelah menyelesaikan Aragon.

Kebangkitan vinales
Semua serba Rossi di Yamaha harus dibuang bagi Vinales

Ya, titik nadir di Aragon membuat Vinales mulai berpikir bahwa selama ini Ia telah salah dalam mengambil arah. Ketika ditanya sebesar apa perubahan pasca Aragon, Vinales menjawab sangat banyak!

“Banyak. Sulit untuk dijelaskan, tetapi kami memberi bobot lebih pada bagian belakang. Biasanya saya tidak mengalami banyak masalah dengan ban depan karena saya cukup baik dalam merasakan batas. Jadi saya lebih berkonsentrasi untuk membuat bagian belakang bekerja dengan sangat baik. Sekarang kami menggunakan rem belakang dan ban belakang untuk menghentikan motor dan itu sangat membantu,” jelas Vinales.

Kemenangan Mental

Setelah memutuskan banyak perubahan usai Aragon, Vinales baru merasa nyaman dengan M1 di Buriram. Hasilnya memang sangat signifikan, finish ke-10 di Aragon menjadi naik podium ketiga di Thailand. Dan kita semua tahu, setelah podium itu Vinales makin percaya diri hingga meraih kemenangan di Australia.

Kebangkitan vinales
kemenangan mental di Australia, Vinales kini di atas angin

Musim 2019 ini, Vinales makin percaya diri untuk ‘menekan’ Yamaha agar menyediakan apapun yang diinginkannya. Salah satunya adalah soal penyediaan motor yang sesuai dengan dimensi tubuhnya. Dengan tinggi 163 cm, Vinales meminta Yamaha M1 yang lebih kecil dibanding yang ada sejauh ini yang notabene dibuat untuk tinggi badan 180 cm Valentino Rossi.

Advertisements