Penyesalan Terbesar Rossi, Musim 2006 atau 2015?

Valentino Rossi baru saja menginjak usia 40 tahun, Sabtu kemarin (16/2/2019). Jika profesi sampeyan guru, usia segitu masih bisa dibilang muda. Tapi, bagi seorang pembalap, 40 tahun bisa dibilang waktunya pensiun menikmati masa tua dari nama besarnya di dunia balap. Tapi, Rossi tetap membalap dengan gairah yang sama dengan saat berusia 30 tahun, 2009 silam. Ia masih terus memburu gelar ke-10 di balap grand prix. Namun, sejatinya Rossi punya beberapa kesempatan emas untuk mendapatkannya di masa lalu. Dua musim paling diingatnya adalah tahun 2006 dan 2015. Musim yang mana yang bikin Rossi paling menyesal?

Lho, bukankah tahun 2006 Rossi mengejar titel ke-8, bukan ke-10? Yup, sampeyan benar cak. Musim ini Rossi sudah mengoleksi 7 gelar dan sedang berburu gelar ke-8.

Sedangkan tahun 2015 adalah upaya Rossi kesekian kalinya untuk mengoleksi titel ke-10. Musim itu juga menjadi ramai perbincangan setelah munculnya #SepangClash yang mengacu pada kejadian kontroversi dirinya dengan Marc Marquez di lintasan Sepang.

penyesalan terbesar rossi
Insiden Sepang 2015 awal mula ketegangan hubungan keduanya

Pertanyaannya, di musim mana Rossi merasa paling menyesal setelah hingga kini masih belum juga meraih titel ke-10?

“Pada akhir 2015, saat saya kehilangan gelar (dikalahkan Lorenzo, dan lagi-lagi di Valencia). Namun, kesalahan sebenarnya adalah tahun 2006, saya bisa saja menang,” ungkap Rossi sepeti dikutip dari motorsport.com (17/2/2019).

Yes, Rossi ternyata lebih menyesal ‘kehilangan’ kesempatan juara di tahun 2006 dibanding 2015. Padahal, di dua musim itu Rossi sama-sama gagal juara di seri terakhir, Valencia. Lalu, mengapa bisa 2006?

The Doctor mengaku membuat kesalahan krusial, membuatnya kehilangan gelar musim 2006.

Musim 2006, Penyesalan Terbesar

Masuk akal jika Rossi paling menyesal mengingat musim 2006 dibanding 2015. Pasalnya, di musim itu Ia sudah nyaris keluar sebagai juara dunia dengan keunggulan 8 poin jelang seri pamungkas. Pesaing terdekatnya, Nicky Hayden-pun ‘hanya’ punya modal 2 kemenangan sepanjang seri, berbanding 5 kali milik Rossi.

Artinya, Rossi hanya perlu finis di depan Hayden di Valencia. Atau andaikan Hayden menang, Rossi cukup finish kedua. Namun, pada kenyataannya di awal-awal lap Rossi melakukan kesalahan dan terjatuh. Kendati bisa melanjutkan balapan, Ia akhirnya hanya finish ke-13. Sialnya, Hayden berhasil naik podium ketiga.

Alhasil, di klasemen akhir tambahan 16 poin Hayden plus hanya 3 poin Rossi mengakibatkan the doctor turun ke posisi runner up. Hayden menyalip dengan keunggulan 5 poin dan menjadi juara dunia. Satu-satunya gelar mendiang di MotoGP hingga akhir hayatnya.

penyesalan terbesar rossi

Sangat menyesal karena Rossi adalah unggulan utama di musim itu. Modalnya adalah 5 kali juara dunia beruntun di 5 musim sebelum itu, 2001-2003 bersama Honda, 2004-2005 bersama Yamaha. Akibatnya gelar Rossi tertahan di angka 7. Bukan tidak mungkin, jika di musim itu Rossi bisa juara, gelar demi gelar masih akan terus mengalir. Bisa saja saat ini Ia sudah pensiun karena jumlah gelarnya sudah 10 atau bahkan lebih.

Musim 2015, Penuh Skandal

Serupa tapi tak sama kembali dialaminya di tahun 2015. Kali ini pesaing utamanya adalah Jorge Lorenzo, sang teammate. Rossi juga masih memimpin klasemen dengan keunggulan 7 poin dari Lorenzo. Sayangnya, gegara penalti poin di Sepang, Rossi harus start dari posisi buncit. Padahal, Ia hanya butuh finish kedua untuk memastikan juara atau setidaknya di depan Lorenzo.

penyesalan terbesar rossi

Sempat melakukan balapan secara heroik dengan menyalip satu per-satu pembalap, namun jarak yang terlalu jauh akhirnya memaksa Rossi hanya finish ke-4. Lorenzo sendiri finish terdepan. Alhasil, di klasemen Rossi disalip Lorenzo dengan 5 poin tertinggal.

Musim 2019, Bayar Rasa Penasaran?

Tahun ini, musim 2019 Rossi kembali menjadi 1 dari 22 starting grid di kelas tertinggi. Ia masih termotivasi untuk bertarung dengan pembalap-pembalap muda, bahkan salah duanya merupakan muridnya sendiri di VR46 Academy. Rasa penasaran akan titel ke-10 menjadi energi Rossi untuk terus kompetitif.

penyesalan terbesar rossi

Akankah di usianya yang menginjak kepala 4 ini, Rossi bisa membayar rasa penasarannya itu? Kita tunggu di akhir musim nanti.

Advertisements

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.