Masalah Klasik Yamaha, Top Speed Letoy!

Dua musim terakhir terasa ingin dilupakan seluruh skuad Yamaha. Performa jeblok terakumulasi dengan rekor baru 25 kali tanpa kemenangan, melewati rekor 22 kali di musim 1997-1998. Skuad Iwata segera berbenah menghadapi musim 2019. Hasilnya mulai terlihat di tes Qatar kemarin. Maverick Vinales tampil tercepat, Valentino Rossi kelima. Tapi, kendati terlihat bangkit, masalah klasik Yamaha tidak pernah terpecahkan hingga kini. Apa tuh?

Yes, sejak merekrut Valentino Rossi di musim 2004 silam, masalah YZR-M1 paling sulit ditemukan solusinya hingga kini adalah soal top speed alias kecepatan puncak. Masalah Yamaha itu tak kunjung teratasi hingga 15 tahun kemudian. Alhasil, skill dan intelegensia pembalap sangat diperlukan untuk ngakali kelemahan itu.

masalah yamaha

Salah satunya dengan menggunakan teknik ‘curang’ namun legal yakni slipstream. Teknik yang memanfaatkan minimalisnya hambatan angin karena berada tepat di belakang rival yang lebih kencang mampu sedikit mereduksi masalah tersebut. Rossi sudah melakukannya.

“Sejujurnya, kami berkutat dengan kecepatan puncak sejak 2004. Kurang lebih kami ada di tempat sama, jadi sejak kemarin sampai hari ini kami tak bisa melakukan apapun,” Rossi mengomentari kurangnya kecepatan puncak YZR-M1 dinukil dari motorsport.com (26/2/2019).

“Tapi saya (sempat) berada di belakang Ducati, dan dengan slipstream kami bisa bertahan,” tambahnya.

masalah yamaha

Tapi, beruntung para insinyur Iwata mampu menutup kelemahan top speed M1 dengan membangun sasis super. Akibatnya, kendati di trek lurus keok, M1 bisa mengembalikan keunggulan saat melibas tikungan. Masalah Yamaha soal top speed masih bisa tertutupi, tapi sementara!

Keunggulan Sasis Jadi Sia-Sia

Sayangnya, kelebihan Yamaha di sektor sasis itu sejak dua tahun terakhir menjadi sia-sia. Pasalnya, para rival seperti Honda dan Ducati telah menemukan ritme dalam pengembangan sasis. Ditambah kecepatan mereka beradaptasi dengan perangkat elektronik baru, Yamaha menjadi keteteran.

masalah yamaha

Paling terlihat adalah improve Ducati. Motor satu ini sejak dahulu kala punya kelebihan power yang melimpah. Namun, kelemahannya adalah kemampuan keluar masuk tikungan sangat jelek. Tidak heran kalau Ducati jaman old sering disebut motor celeng, mengacu pada hewan babi hutan (celeng) yang kencang larinya namun sulit membelok.

Namun, sejak 3 musim terakhir berbagai inovasi dilakukan pabrikan Borgo Panigale itu hingga kini Desmosedici GP sudah menjelma menjadi motor yang nyaman dikendalikan namun tidak mengurangi kelebihan di sisi power.

masalah yamaha

Yamaha? Sudah seharusnya fokus mereka ke depan tidak ke sasis lagi. Sasis M1 sudah layak diacungi jempol, fokus selanjutnya adalah meningkatkan hamburan tenaga puncak si kuda besi agar tidak terus menjadi bulan-bulanan rival di trek lurus.

masalah yamaha
Advertisements

1 Trackback / Pingback

  1. Pramusim Vinales Sempurna, Menang? Tunggu Dulu! - rideralam.com

Comments are closed.