Cepat Di Tikungan atau Kencang Di Trek Lurus?

Cepat Di Tikungan atau Di Trek Lurus? Sebuah pertanyaan yang berdasar hasil balapan perdana MotoGP di Losail, Qatar pekan lalu. Mana pilihan sampeyan?

Tim-tim pabrikan MotoGP terus berinovasi dengan motor-motor mereka agar para pembalap di atasnya bisa memenangi balapan bahkan kompetisi. Termasuk saat di GP Qatar kemarin, pertarungan seru di baris depan menyisakan fakta bahwa ada pertarungan kecepatan di tikungan dan di trek lurus antara GP19 dan GSX-RR.

cepat di tikungan

Untuk di Losail, pemenangnya jelas yakni motor yang punya keunggulan di trek lurus. Dialah Ducati Desmosedici GP19 milik Andrea Dovizioso. Tentu saja, bahasan kali ini kita abaikan dulu faktor lain seperti ban, skill pembalap hingga set up motor masing-masing.

Sang juara Qatar, Andrea Dovizioso mengakui bahwa keunggulan Suzuki GSX-RR ada di tikungan. Kecepatan motornya luar biasa, terutama saat tepat di tikungan. Sedangkan, motor yang dikendarainya justru sebaliknya, sangat susah menemukan kecepatan maksimal saat cornering.

“Maksud saya, motornya saya pikir benar-benar kebalikan dari motor saya. Saya bisa berakselerasi sangat kuat, saya bisa sangat cepat di garis lurus tetapi di tengah tikungan saya banyak kesulitan,” ujar Dovizioso dilansir dari crash.net (11/3/2019).

Namun kondisi berbalik saat di trek lurus. GP19 punya horsepower yang lebih baik dibanding GSX-RR. Alhasil, semua keunggulan di tikungan dari sang rival seketika sirna saat masuk trek lurus.

Rins begitu mudah menekuk Dovi saat bertemu tikungan, namun kembali di belakang saat bertemu straight. Dovi melihat GSX-RR adalah antitesis dari GP19.

Motor Celeng

Memang, dalam sejarahnya Ducati selalu punya motor dengan top speed luar biasa. Namun, kelemahan utamanya adalah susah belok sehingga saat itu Desmosedici dijuluki ‘motor celeng‘ mengacu pada hewan babi hutan (celeng) yang kencang berlari namun susah belok.

cepat di tikungan

Namun, sejak Gii Dall’Igna masuk, Desmosedici mulai menemukan keseimbangan. GP19 menjadi mudah dikendalikan di tikungan, namun tetap dengan power tetap beringas.

Nyaris mustahil memang menciptakan motor dengan kemampuan sempurna. Lincah dan powerfull di tikungan sekaligus digdaya di trek lurus. Pasti ada satu sisi yang dikorbankan. Kini yang dikejar para insinyur pabrikan adalah membuat gap dua faktor itu tidak terlalu besar.

Untuk saat ini kencang di trek lurus masih belum bisa dikalahkan cepat di tikungan, bagaimana di Argentina nanti?

Advertisements