Terbang Pertama Setelah 12 Tahun, Ngeri!

Kali ini dari Surabaya tujuan Bali menggunakan maskapai Lion Air. Tahun 2007 silam, pertama kali terbang menggunakan Sriwijaya Air. Hasilnya, deg-deg-an cak, asli gak bisa berhenti komat-kamit.

Mendapat pesan whatsapp dari Mas Novan MPM Honda Jatim akhir bulan Juli lalu yang intinya mengajak RA turing kemerdekaan di Bali. Di Bali cak, bukan ke Bali. Undangan pertama dari Honda nih, tumben ya. Mungkin sudah ada perubahan sistem undangan kali, setelah bertahun-tahun 4L. Dan dari hasil obrolan dengan beliau setelah di Bali, RA tahu jawabannya.

Ok, excited? Tentu dong. Sayangnya, ada dua kekhawatiran bersamaan dengan rasa senang itu. Pertama, undangan datang ketika aktivitas ngeblog sedang di titik nadir sejak 2011 silam memulai membangun rideralam.com. Ya, terhitung sejak Juli lalu, blog sama sekali kosong. Ada masalah besar di keluarga yang menyita konsentrasi dan energi sepanjang dua bulan itu. Padahal, undangan model begitu dari ATPM jelas timbal baliknya adalah pemberitaan di blog. Jujur, ini sangat berat untuk saat ini.

Kedua, ini yang akan jadi bahasan utama artikel ini. Naik pesawat udara, jegerrrAtut cak! Hehehe… Jangan diguyu lho ya. Sebenarnya, ini bukan kali pertama naik pesawat udara. Tahun 2007 lalu, pertama kali naik ke Bangka dengan Sriwijaya Air. Itu hanya dua hari setelah pesawat Garuda terbakar di Jogjakarta, mantabs… Sempat bisa menunda selama sebulan, tapi, akhirnya berangkat karena sudah diultimatum dosen yang mengajak kerja proyek beliau di sana.

Dan 12 tahun kemudian, kesempatan itu datang lagi, kali ini Surabaya menuju Bali dengan Lion Air. Padahal, maskapai satu ini paling sering RA nyinyirin akibat segala rupa masalahnya heuheuheu… Pelajaran nih cak! Antara bayangan hepi-hepi di Bali dengan ketakutan menuju ke sananya…

terbang pertama

Dibatalkan?

Mendekati hari keberangkatan, masih sempat kepikiran untuk membatalkan keikutsertaan, tapi tentu saja ini tidak mungkin. Tiket sudah dibooking, undangan pertama, tentu kesan positif harus diperlihatkan. Bismillah wis

Wajah masih bisa senyum, tapi percayalah otak sudah membayangkan yang tidak-tidak dengan pesawat

Dan akhirnya momen itu tiba. Usai sarapan di restoran cepat saji emakD, kitapun menuju Bandara Juanda. Makin deg-deg-an deh, wajah sih masih senyum, becanda juga tetap dilakukan, tapi pikiran masih gak bisa lepas dari membayangkan naik pesawat heuheuheu… Ngeri, cak!

40 menit! Ya, 40 menit terpanjang dalam hidup RA nih cak. Surabaya-Denpasar ditempuh dalam 40 menit, demikian informasi dari pak pilot. Bagi yang biasa naik pesawat, segitu doang sih sebentar. Tapi, percayalah bagi RA itu serasa 40 jam. Luama banget cak. Baru take off sudah cek arloji. Ketika perahu masih terlihat jelas di bawah, lihat arloji. Ketika yang terlihat hanya awan, cek arloji. Hasilnya, kapan ya 40 menit ini usai?

terbang pertama

Usai lampu seatbelt padam, para pramugari mulai menawarkan makanan dan minuman kepada penumpang, tentu saja tidak gratis. RA? tak peduli cak, masih dag dig dug saja ini jantung. Akhirnya setelah sekitar 20 menit, terdengar suara pilot bahwa pesawat akan landing beberapa saat lagi. Wow, akhirnya masa itu tiba. Lega, namun ketakutan makin memuncak.

terbang pertama

Bagaimana tidak, menurut data Boeing, 63% kecelakaan pesawat terjadi saat take off dan landing. Subhanallah, belum berakhir ketakutan ini, cak. Yang agak menghibur adalah data bahwa angka kematian akibat kecelakaan pesawat masih lebih rendah dari kecelakaan mobil. Oke, sedikit menghibur tapi tetap saja bikin takut hahahaha… dasar emang takut terbang, mau data mikropun bakalan tetap takut.

Oke, akhirnya daratan Pulau Bali mulai terlihat dan terus mendekat. Dilema, di satu sisi “siksaan” akan segera berakhir, tapi sisi lainnya masih akan menghadapi “critical eleven“. Istilah ini merujuk pada saat genting di mana kecelakaan pesawat sering kali terjadi, yakni tiga menit pertama dan delapan menit terakhir penerbangan.

Dengan makin tinggi kuantitas komat-kamit, pendaratan semakin mendekat. Artinya, benturan ban dan aspal landasan tak lama lagi. Inilah menurut RA masa-masa paling menakutkan.

terbang pertama

Akhirnya ‘baaammmm’…. Lion Air kode J0922 mendarat dengan mulus, lebih mulus dari pertama kali mendarat di Bandara Depati Amir, 12 tahun silam. Alhamdulillah, lega rasanya. Allah SWT masih memberikan keselamatan kepada RA dan seluruh penumpang pesawat. Welcome, Bali!!!!

Siap mengeksplore Pulau Dewata, tiga hari ke depan! Next artikel ya (kalau lagi tidak malas ya cak)

terbang pertama
terbang pertama
Advertisements

2 Comments

  1. samaaaaa, saya juga gitu setelah sekian lama ngga terbang, meskipun pada akhirnya sedikit berkurang setelah bbrp kali terbang dalam waktu yang ngga terlalu jauh.

Comments are closed.