Bajaj, Dari Gebrakan Motor Murah… Rencana Bangun Pabrik… Hingga Nitip Jualan, What’s Next?

image

Bajaj… Awalnya setiap mendengar kata itu pikiran kita pasti akan langsung ke mode transportasi roda tiga yang pernah merajai Jakarta, bahkan sampai diangkat dalam sebuah sitkom TV berjudul Bajaj Bajuri. Tapi, P180 UG3, Bajaj XCD 125 kemudian menyusul Bajaj Pulsar series mampu membuat perhatian masyarakat perlahan beralih ke mereka. Bajaj bukan lagi roda tiga, tapi adalah motor India yang murah tapi performa makjib!

Produsen motor asal India ini mampu menggebrak pasar R2 tanah air dan memberikan alternatif pilihan bagi konsumen akan motor sport atau motor batangan di luar produk Jepun. Model oke, kualitas part dan performa yang prima serta tentunya senjata andalannya, low price atau murah mampu menghipnotis konsumen yang mendambakan motor batangan kualitas oke dan harga murah. Murah tapi gak murahan. Alhasil, semakin hari nama Bajaj Pulsar makin besar. Angka penjualan rata-rata 1500-2000 unit per-bulan adalah prestasi luar biasa ditengah kepungan mindset “motor ya dari Jepang” apalagi beberapa tahun sebelumnya konsumen tanah air dibuat “luka” oleh ulah motor-motor cina (mocin) yang hit n run, jual dan kabur.

Sehingga pasca prestasi tersebut, principal Bajaj di India sempat memberikan angin surga dengan berencana mendirikan pabrik perakitan (ckd) di Indonesia, dengan syarat penjualan stabil di angka 3000 unit/bulan. Tentunya kabar baik ini membuat pulsarian (julukan rider pulsar) sumringah, paling tidak harga jual bisa makin murah dan ketersediaan part suku cadangĀ  jadi terjamin. Tapi, kenyataannya hingga kini angin itu hanyalah angin yang lewat ga tentu kemana.

Bahkan, bukan hanya gagal bangun pabrik, kabar terkini PT. Bajaj Auto Indonesia (BAI) seperti ogah-ogahan melanjutkan jualan Pulsar series. Penjualan part pun sudah melewati pihak ketiga, yang kalau RA bilang ini adalah strategi halus BAI untuk tidak jualan lagi, atau secara kasar bisa dibilang mau kabur. Ditambah dengan fakta bahwa mereka join dengan Kawasaki untuk menjual produk anyarnya, P200NS, apa maksudnya ini? Apakah Bajaj benar-benar tidak mau lagi turun langsung jualan motor di Indonesia? Lantas bagaimana nasib pemilik motor-motor Bajaj nantinya yang walaupun ada pihak ketiga yang nyediakan suku cadang, tetap saja namanya pihak ketiga tidak bisa memberikan jaminan kepuasan seperti halnya jika si produsen langsung!

Oke, Sekarang mereka “menitipkan” produk mereka ke produsen lain untuk dijualkan, berlindung dibalik nama join atau kerja sama, lalu what’s next? Apakah nama Bajaj masih akan ada di tanah air atau hanya akan jadi sejarah?

Silahkan dikoreksi dan didiskusikan, semoga bermanfaat!

Posted by Rideralam from WordPress Android
e-mail: karis.nsz@gmail.com
twitter: @karismapr

Advertisements

6 Comments

  1. Para Samurai Jepang terlalu tangguh dan masing-masing Samurai sudah mematok “Area kekuasaan” masing-masing.!! hehehehe

Comments are closed.