Musim Layangan euy…!!

Bro, di daerah saya sekarang sedang musim layangan. Sebuah permainan tradisional yang ga ada matinya. Biasanya musim layangan tiba berbarengan dengan kemarau, saat angin berhembus ke timur hingga ke selatan. Jika permainan tradisional yang lain kebanyakan dimainkan oleh anak-anak, layangan justru digemari oleh semua umur, mulai dari anak-anak hingga kakek-kakek. Jadi, jangan heran jika musim layangan tiba anak-cucu-bapak-kakek rebutan untuk menerbangkan layangan hehehe…

Layangan hias dari Bali

Layangan secara umum dibagi menjadi dua, yaitu layangan hias dan layangan aduan. Perbedaannya bisanya terletak pada bentuk layangannya. Layangan hias pada umumnya memiliki bentuk yang sangat beragam, maklum namanya juga layangan hias, sedangkan layangan aduan secara umum cuma ada satu bentuk yaitu seperti bentuk belah ketupat asimetris.

Layangan aduan

Saya akan menceritakan tentang layangan aduan, karena di tempat saya memang lagi musim layangan aduan. Layangan aduan terbuat dari bahan dasar bambu dan kertas khusus layangan serta diterbangkan dengan benang atau senar yang telah digelasi sehingga menjadi tajam. Nah, disebut dengan aduan karena masing-masing layangan diadu dengan layangan lainnya dengan cara melilitkan benang di udara hingga salah satunya terputus. Pemenangnya adalah yang tidak putus benangnya.

Bagaimana cara membuat layangan? kebetulan saya bisa juga membuat layangan, namun untuk musim layangan sekarang agak malas untuk membuat karena banyak kesibukan (ciee…sok sibuk), jadi saya tinggal memesan ke tetangga yang biasa melayani pemesanan layangan aduan. Sebenarnya cukup mudah dalam membuat layangan. Yang perlu disiapkan adalah bambu, gergaji, pisau atau cutter, benang jahit, kertas layangan, lem kertas dan gunting. Bambu yang digunakan merupakan jenis bambu duri yang memiliki serat banyak dan keras namun elastis.

Bambu dipotong sesuai ukuran yang dikehendaki

Bambu dipotong menggunakan gergaji tangan dengan ukuran yang disesuaikan kemauan (biasanya bambu digergaji dengan titik tengah berupa ruas/buku) trus diserut dan dihaluskan hingga bisa ditekuk dengan kedua sisi sama, ini untuk rangka sayap. Untuk rangka yang vertikal sama perlakuannya dengan yang sayap, namun bambu dibuat lebih besar sisi atas, ini memungkinkan layangan menjadi mudah berakselerasi di udara. Diameter rangka bambu itu rata-rata 2-3 mm.

Rangka bambu disatukan dengan benang jahit

Kemudian tahap berikutnya, rangka bambu disatukan dengan menggunakan benang jahit yang diikatkan ke ujung-ujung bambu. Nah proses ini harus dilakukan dengan sangat presisi dan simetris agar layangan tidak berat sebelah yang mengakibatkan sulit diatur di udara.

Rangka layangan diberi kertas

Setelah rangka disatukan, saatnya dilakukan penempelan kertas layangan dengan menggunakan lem kertas atau lem apapun bisa, kertas digunting mengikuti bentuk rangka dengan menyisakan 1 cm keluar. Kertas yang dilebihkan ini fungsinya untuk merekatkan lebih sempurna lagi rangka bambu dengan kertas.

Layangan diberi pola dan diwarnai

Proses pemasangan kertas selesai, berikutnya adalah memberi pola warna dan model hiasan layangan. Pewarnaan menggunakan pewarna untuk sablon kain atau pewarna tekstil. Dalam tahap ini biasanya tiap anak atau penerbang layangan akan memilih corak yang berbeda dengan yang lainnya, tujuannya agar ketika di adu di udara bisa gampang mengidentifikasi layangan sendiri dan layangan lawan.

Layangan siap diterbangkan dan diadu

Terakhir adalah saatnya test flight layangan sekaligus siap diadu dengan layangan lain, yang tentunya tempat menerbangkan layangan agar bisa diadu adalah terpisah agak jauh.

Well, lumayan liburan diisi dengan bermain layangan, tapi ingat hati-hati dengan antena TV, kabel listrik, atau kendaraan yang berseliweran dekat tempat kita adu layangan. Jangan sampai sebuah hobi yang menarik ini menyebabkan celaka.

Semoga bermanfaat!

Advertisements

14 Comments

  1. iya setuju kalo itu, tapi tenang saja, kita mainnya di kampung koq…paling yang rusak padi diswah keinjek2 hehehehe….

Comments are closed.