Nih Syarat Pemenangan Pilpres, Ada Dua Syarat Yang Masih Diperdebatkan

image

Rideralam.com – Brosis, sedikit OOT kali ini ngobrol dikit tentang gawe besar bangsa ini sebulan lagi, pemilihan presiden dan wakil presiden. Sudah ada gambaran mau pilih yang mana? Pasangan nomor 1 Prabowo-Hatta atau nomor 2 Jokowi-Kalla? Hanya brosis dan Yang Di Atas yang tau pilihan brosis sendiri. Nah, sudah pada tahu gak kalau ada peraturan yang mengatur siapa-siapa yang bisa disebut pemenang dalam pilpres nanti?

Ternyata, tidak cukup mudah untuk menentukan siapa pemenang dari kedua pasangan capres-cawapres itu. Tidak hanya sekedar yang mendapat suara terbanyak yang menang, namun ada undang-undang yang mensyaratkan bahwa pemenang pilpres harus memenuhi dua syarat ini, apa saja?

Pertama pasangan capres dan cawapres harus mendapatkan suara lebih dari lima puluh persen dari jumlah suara dalam pemilihan umum. Kedua, kandidat harus meraih sedikitnya dua puluh persen suara di setiap provinsi yang tersebar di lebih dari setengah jumlah provinsi di Indonesia. ~detik~

Kedua syarat tadi sesuai dengan amanat UUD 1945 dan Undang-Undang No. 42 Tahun 2008. Jika dilihat, syarat pertama berarti salah satu pasangan calon harus meraih minimal 50%+1 suara untuk menang. Amanlah ya kalau ini, sebab hanya ada dua calon yang bertanding, jadi kemungkinan seri kecil. Syarat kedua ini yang agak ribet.

Indonesia memiliki 33 provinsi yang artinya calon pasangan pemenang harus meraih suara minimal 20% di 17 provinsi. Bagaimana seandainya ada calon pasangan yang sesuai syarat pertama sudah bisa disebut pemenang, namun syarat kedua hanya dapat 20% suara di 16 provinsi? Inilah yang masih menjadi perdebatan hingga saat ini.

Ada dua pendapat, pertama karena hanya ada dua pasangan maka cukup syarat pertama yang digunakan, artinya calon pasangan peraih suara terbanyak yang disebut pemenang tanpa mempertimbangkan sebaran suara. Sedangkan pendapat kedua mengatakan kedua syarat di atas harus dipenuhi agar disebut pemenang, sebab jika tidak maka calon pasangan berpotensi hanya akan menggarap daerah yang memiliki jumlah pemilih banyak, pulau Jawa misalnya.

Bingung? Biarlah brosis, gak usah bingung biarkan saja KPU yang memikirkan itu semua, tugas kita adalah menggunakan hak pilih kita untuk memilih salah satu dari kedua pasangan yang akan bertarung, atau mau coblos dua-duanya atau tidak coblos dua-duanya. Yang terpenting adalah gunakan hak suara brosis, agar suara kita tidak digunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Golput? Tidak ada yang melarang, yang penting gugurkan hak suara kita!

Baca Juga:
[display-posts tag=indonesia]

Silahkan dikoreksi dan didiskusikan, semoga bermanfaat!

Contact me on:
e-mail: karis.nsz@gmail.com
twitter: @karismapr
whatsapp: +628 77 1 2727 000

Advertisements

11 Comments

  1. mencoblos merupakan kewajiban warga negara yang baik…yang di toblos terserah siapa yang di sukai..kalau dua duanya suka coblos dua duanya saya kira gak ada yang mempermasalahkan…bagai keewajiban suami yang baik kan wajib nyoblos sang istri…rak gitu tho bang? ^_^

Comments are closed.