Pak Polisi, Rasa Aman Koq Mahal Sekali Ya?

Gambar Ilustrasi

Kemajuan teknologi informai memungkinkan kita yang jauh dari Ibukota memperoleh berita sama cepatnya dengan yang di Jakarta tersebut, termasuk berita tentang kebrutalan geng motor. Geng yang lebih pas disebut Gerombolan Pengacau Keamanan (GPK) atau kalau mau disebut teroris juga monggo jika dikaitkan dengan tindakannya yang meresahkan warga tersebut, seakan-akan tidak memperoleh “lawan” (baca pihak keamanan) selain geng motor lainnya. Hasilnya, akan sering terjadi “perang” antar geng motor, akibatnya bisa melebar kepada semua pemilik motor yang akan dicap sebagai perusuh, repot kan?!

Kabar tentang “serangan” geng motor dengan ciri khas pita kuning menjadi headline dimana-mana. aksi yang diduga sebagai tindakan balas dendam terhadap aksi geng motor beberapa hari sebelumnya ini menyebabkan meninggalnya satu orang dan beberapa luka-luka. Entah apa yang ada dipikiran mereka sehingga dengan mudahnya menghabisi nyawa seseorang, pake keroyokan pula! Yang menjadi pertanyaan adalah, apa tindakan polisi sejauh ini terhadap geng-geng motor ini? Diam? rasa-rasanya dibilang diam agak kurang pas, minimal mereka memikirkan itu. Hah??!! cuma memikirkan??

Fenomena geng motor bisa jadi merupakan ekses dari dropnya wibawa kepolisian sebagai instansi pengayom dan pelindung masyarakat. Polisi yang digadang-gadang bisa menjadi pelindung sosial seakan-akan dikebiri atau terkebiri fungsinya. Apalagi ada dugaan anggota geng motor tersebut adalah oknum TNI atau anak pejabat, tambah ompong deh. Harusnya kan tanpa melihat siapapun pelaku atau dibelakang si pelaku, polisi memiliki hak dan kewenangan untuk menangkap dan memberikan rasa aman kepada warga. Yang terjadi malah jauh dari itu, ketika pelaku kejahatan hanyalah orang kecil biasa, mereka dengan gagahnya menangkap, giliran pelaku adalah orang penting atau dibekingi orang berpengaruh, mereka jadi krupuk keanginan, mlempem…! Kalau sudah begini, jangan salahkan masyarakat jika menjadi antipati terhadap instansi ini.¬†Geng motor ini anggotanya kan bukan cuma 1-2 motor saja, bisa ratusan, jadi jika dipikir secara awampun harusnya gampang untuk dilacak, lha wong untuk melacak Noordin M Top seorang saja bisa, koq malah yang gerombolan begini “susah” minta ampun. Ada apa?

Oke, saya memang tidak tahu sama sekali seperti apa protap atau cara kerja kepolisian dalam upaya membekuk penjahat, tetapi yang sering terlihat adalah ada kesan ketika kejadian sedang berlangsung (misal kerusuhan atau amuk masa) seperti dibiarkan, baru setelah reda pada ditangkapin (diciduk). Tidak ada salahnya metode seperti itu, tapi bukannya lebih bagus lagi untuk meredam kejadian agar tidak berlangsung semakin parah, misalnya jika ada amuk geng motor, ya ketika mereka sudah melancarkan aksinya pihak kepolisian harus dengan cepat menghalangi, sebelum jatuh korban.

Well, keinginan kepolisian untuk berubah lebih baik harus kita dukung, namun jika melihat kejadian sosial akhir-akhir ini, sorry to say paradigma tersebut hanya sebatas pemberitahuan di spanduk atau sebatas omongan doang, nyaris nihil dalam praktek. Ayo pak polisi, kepada siapa lagi kami harus menggantungkan asa keamanan dan kenyamanan melanjutkan sisa hidup ini jika tidak kepada bapak-bapak. Berikan kami rasa aman untuk lebih fokus berkarya demi bangsa tercinta ini, dan bapak pun akan mendapat respek dari kami. Jika itu bisa kami dapatkan, tidak akan ada lagi yang namanya amuk massa, main hakim sendiri, geng motor kriminal atau sampah masyarakat lainnya.

Silahkan dikoreksi dan dikomentari, semoga bermanfaat!

Advertisements

Comments are closed.