Pemilu Datang, Banyak Cerita Yang Bisa Dipetik!

image

RiderAlam.com – Hari pencoblosan Pemilihan Umum Legislatif secara umum sudah selesai kemarin Rabu (9/4). Kebetulan RA ditunjuk sebagai petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) Desa Paowan tepatnya di TPS 1x. Desa Paowan sendiri memiliki 1x TPS. Di TPS 1x jumlah Daftar Pemilih Tetap adalah 331 jiwa dengan rincian 162 Pria dan 169 Wanita.

Apa saja kesan selama bertugas pra dan saat pencoblosan? Boleh dibilang sangat banyak. Yang jelas yang bikin gak bakal hilang capeknya dalam 1-2 hari ini adalah keharusan menulis sekian banyak form isian yang diwajibkan diisi oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), mulai dari isian model C, C1, lampiran model C1, C2, C3, C5 hingga printilan-printilan yang semuanya harus diisi. Semuanya! Gokil bukan, padahal satu form itu bisa sampai 17 rangkap! Menulis mulai pukul 07.00 saat pemungutan suara dimulai hingga kelar merrkap semuanya pukul 23.00. Alhasil, kritiiiiinggg hahahaah…. tapi, namanya kewajiban dan telah sanggup menerima tugas itu, hajar bleeh…

Ngomong tentang DPT, RA sudah berurusan dengan DPT ini sejak masih menjadi Penyelenggara Pemungutan Suara (PPS) Desa saat pemilu 2009 lalu. Dan terus terang selalu kekecewaan yang muncul. DPT seharusnya memuat data jumlah pemilih yang memiliki hak suara. Untuk di desa, DPT biasanya dibagi per-TPS dengan jumlah bervariasi antara 200-400 jiwa. Namun, setiap menerima salinan DPT hanya kerutan di dahi yang muncul. Pasalnya, masih banyak kekurangan di daftar tersebut. Misalnya, warga yang sudah meninggal dunia masih saja tercantum namanya, padahal meninggalnya sudah hampir setahun (nenek RA nih orangnya). Selain itu, nama-nama pemilih yang double counting juga tidak pernah absen. Padahal beberapa bulan sebelum hari H pencoblosan, KPU daerah melalui Penyelenggara Pemungutan Suara Kecamatan (PPK) dan PPS telah mendata ulang warga yang akan mengikuti pemilu.

Survey telah dilakukan, daftar pemilih sementara sudah dicorat-coret terkait ada tidaknya nama warga di daftar itu, hasilnya ketika muncul DPT hasil revisi ke tangan petugas KPPS, muncul lagi-muncul lagi nama-nama warga yang seperti sudah disinggung di atas. Bahkan, warga yang orangnya ada malah tidak tercover di DPT. Jadi berpikiran gini, “apa sih yang dilakukan KPU daerah, kerja gak sih?” Ah….

Cerita menarik selanjutnya adalah saat bertugas di hari pencoblosan. Petugas KPPS itu berjumlah 7 orang. Kebetulan untuk TPS 1x yang dianggap “mengerti” urusan administrasi alias catat mencatat ada dua yaitu Pak H. Yunus dan RA sendiri dan ditunjuk sebagai KPPS 2 dan KPPS 3. Jadi, dari awal hingga rekapan akhir ya tanggung jawab dua orang ini untuk urusan administrasi. Asli, banyak banget yang ditulis namun enaknya kerjanya fokus satu saja, gak boleh diganggu urusan tetek bengek lainnya. Jadi, butuh apa tinggal suruh yang lain hahahaha…. mumpung.

Suasana becanda selama pemungutan suara sangat kental di TPS. Becandanya lebih ke nge-bully siapapun sih. Yang paling jadi “korban” adalah petugas KPPS yang mengarahkan pemilih untuk memasukkan surat suara ke kotak. Maklum, orangnya agak lemot dan grogian namun kalau kerja rajin banget. Jadi, kalau lagi kerja trus agak salah sedikit langsung dikomentari oleh yang lain, dan anehnya dia tetap saja lempeng kerja, gak sadar kalau lagi dibully hehehe….

Selain dia, para saksi juga tidak luput jadi “korban”. Apalagi kalau bukan urusan perut alias makan. Saksi-saksi itu jatah makannya dikirim oleh koordinator saksi dari partai yang bersangkutan ke tiap-tiap TPS, kebetulan di TPS 1x jumlah saksi 9 orang dari 9 partai yang semuanya adalah orang sekitar TPS, jadi suasana di TPS seperti suasana kongkow-kongkow itu dah, akrab dan kekeluargaan tanpa tegang. Ketika ada satu saksi kiriman makannya datang, orang-orang yang akan memilih termasuk petugas KPPS manas-manasi saksi lain yang kirimannya belum datang, akhirnya suasana pecah penuh tawa. Pemilu opo iki rek koq banyolan thok isine hahahaha… tapi suasana begitu yang bikin kerja jadi relax. Gak ada namanya tegang-tegang apalagi kerusuhan, rusuhnya ya sambil ketawa-ketiwi.

Saat pencoblosan, sebagian warga yang sudah tua dan kurang awas penglihatannya maupun pengetahuannya tentang politik membuat mereka cenderung asal pilih atau asal coblos. Pokok e kalau pemilu itu berarti nyoblos, apa yang dicoblos bagi mereka tidak lagi penting. Apalagi kalau sudah urusan caleg, yang jumlahnya sangat banyak dan tulisan nama yang ada di kertas suara kecil-kecil, sudah bisa dipastikan mereka tidak akan memilih berdasarkan yang mereka tahu, asal! Paling yang menarik adalah saat mencoblos wakil DPD yang ada gambar/foto calon, celotehan-celotehan mulai muncul, “wuih…siapa ini, gak kenal…pilih yang cantik ah” atau “pilih yang ganteng ah”. Hahahaha….

Tentang money politic yang dilakukan caleg, yang katanya banyak dilakukan menjelang hari pencoblosan, itu tidak salah. Rupiah sebesar 25 ribu hingga 50 ribu disebar ke calon pemilih yang dianggap mudah dipengaruhi suaranya untuk diarahkan ke calon tertentu. “Serangan Rupiah” ini biasanya dilakukan oleh tim sukses caleg yang bersangkutan. Tim sukses ini di tiap RT biasanya ada. Gerilya dilakukan sejak H-2 hingga pagi hari saat hari H.

Apakah ini hal aneh dan baru? Sama sekali tidak! Apakah hal seperti ini masih akan terus terjadi? Bisa dipastikan iya! Apakah hal itu mudah diketahui? Jawabnya iya! Mudah dilacak? Belum tentu!

Money politic bukanlah hal baru apalagi aneh di kalangan warga, setidaknya di seputaran tempat tinggal RA. Setiap jelang pemilu, kasak kusuk yang berkembang adalah caleg mana nih yang akan nyerang, berapa nih besar duitnya, bahkan saking ekstremnya ada yang bilang gak mau ikut coblosan kalau gak dikasih uang oleh caleg hahahahaah…. prihatin namun bagi petugas pemilu sih malah bagus, pemilih jadi berangkat ke TPS gara-gara dikasih uang caleg, lumayan mengurangi golput hahahaha….

Money politic juga akan terus terjadi jika kondisi perekonomian warga desa masih di level bawah. Ditambah moral caleg yang amburadul plus sistem yang memungkinkan untuk itu terjadi. Warga tidak bisa sepenuhnya disalahkan ketika mereka menerima uang sebesar 25 ribu hingga mungkin ratusan ribu dari para caleg. Lha wong dikasih gratisan koq gak mau. Kerja ke sawah saja sehari dapatnya paling hanya 25 ribu plus kepanasan pul, mosok iya dikasih cuma-cuma ditolak, lak eman-eman tho.

Lalu money politic itu sebenarnya nyata dan mudah diketahui. Mau tahu caranya? Membaur saja dengan warga sekitar rumah brosis, simak obrolan-obrolan mereka menjelang coblosan, biasanya obrolan tentang uang-uang panas itu ada. Atau kalau mau lebih yakin lagi, saat penghitungan suara datang saja lalu lihat sekitar. Biasanya ketika petugas KPPS mulai menyebutkan satu per-satu kertas suara yang sah atau tidak, maka warga biasanya akan nyeletuk “wah… jagoan si A nih” atau “Si A sukses nih”. Bahkan diantara para warga (tim sukses caleg) biasanya mulai ngobrol seputar usaha mereka menjadi tim sukses. Hehehhe….mudah koq ketahuannya.

Tapi, mudah diketahui belum tentu mudah dilacak atau dibuktikan. Sekedar obrolan soal uang tidak bisa dijadikan bukti. Bahkan, serah terima uang dalam amplop dari tim sukses ke warga, walau sudah didokumentasikan, juga belum cukup kuat untuk membuktikannya. Transaksi antar warga tidak bisa membuktikan bahwa itu adalah transaksi money politic, bisa jadi itu adalah transaksi antar warga dalam urusan ongkos kerja di sawah misalnya. Susah bukan?

Pokoknya, pemilihan umum yang 5 tahun sekali ini memiliki banyak cerita. Negara ini masih harus lebih banyak lagi belajar tentang demokrasi. Masih terlalu banyak kekurangan sana-sini yang sayangnya masih sering disembunyikan dan ditampakkan seolah-olah sukses. Padahal….

Baca Juga:
[display-posts tag=indonesia]

Silahkan dikoreksi dan dikomentari, semoga bermanfaat!

email: karis.nsz@gmail.com
twitter: @karismapr

Advertisements

12 Comments

Comments are closed.