Perjalanan Singkat Envilan, Saatnya Egoistis Dikesampingkan

image

Masih ingat sore itu sekitar ba’da ashar dengan meminjam Mio Soul adik sepupu, RA berangkat mencari pengganti Sipio yang di siang harinya telah berpindah tuan. Hari itu hari tua di bulan kedua tahun lalu. Ada satu tujuan utama yakni mencari Vario ISS dengan harapan bisa mendapat kenyamanan khas matik. Namun sayang, ukuran badan ini yang termasuk jumbo tidak bisa diakomodir dengan baik oleh si VaISS. Dengkul mentok dek depan. Padahal kala itu yakin VaISS inilah matik terbesar yang masih bisa dijangkau dompet. Sempat bingung dengan “motor apa ya buat ganti Sipio?” Sebab tidak ada lagi satupun motor di rumah yang bisa buat transportasi kerja, hari itu harus dapat. Sempat bingung sebab VaISS itulah satu-satunya yang menjadi pilihan kala itu.

image

Sempat melirik sosok New Megapro yang lumayan besar, ah males dengan stupanya. Ada juga di sebelah NMP CB150R Streetfire yang lagi hot kala itu, namun tidak pernah masuk hitungan. DOHC nya membutuhkan konsumsi bbm yang lumayan. Mending tetap Sipio dong. Akhirnya, terpikirkan dengan New Vixion lightning. Cussss… menuju dealer Yamaha dekat Taman Makam Pahlawan. Disambut mas salesnya, RA utarakan niat untuk lihat NVL. Basa-basi akhirnya deal, nvl hitam keluaran 2014 yang kemudian dikenal dengan Envilan. Itulah sekelumit flashback perjuangan meminang Envilan sekitar 20 bulan lalu.

image

20 bulan kehidupan harian RA bersama Envilan. Motor nyaris sempurna yang pernah RA miliki. Speed oke, handling nyaman, konsumsi bbm irit banget, desain ciamik, pokoknya untuk motor harga 23 jutaan, nvl nyaris sempurna. Kekurangannya hanya satu, kekecilan untuk tubuh RA yang jumbo ini. Ini sih kekurangan di sisi ridernya ya :D. Kini, 20 bulan kemudian, Envilan telah resmi punya majikan baru. Motor sempurna itu sudah berganti pemilik. RA melepasnya dengan sangat berat hati, bukan karena tidak suka apalagi kecewa dengan yang semua yang dimilikinya, melainkan karena kebutuhan.

image

Telah berkeluarga, telah dikaruniai seorang putra ganteng yang sehat, rasa-rasanya motorsport walaupun naked terlalu egois dimiliki. Tidak bisa mengakomodir kebutuhan keluarga kecil kami yang besar ini. Dan, akhirnya matiklah yang menjadi pilihan berikutnya. Matik apa?

Advertisements

15 Comments

  1. Ketika masih berdua saja sama istri masih enjoy naik motor sport, ketika sdh punya anak 1 mulai terasa repot apalagi klo harus bawa belanjaan, ketika anak saya sdh 2 saya ambil lg matic Vario150 masih terasa nyaman ketika riding berempat, yg besar didepan saya kasih tempat duduk sedang yg kecil dipangku ibunya. Selama pakai motor sport hampir belum pernah anak saya didudukin ditangki, takut loncat klo direm mendadak.

Comments are closed.